Kala Dream Theater napak tilas legenda Bandung Bondowoso

Kala Dream Theater napak tilas legenda Bandung Bondowoso

Vokalis Dream Theater, James LaBrie (tengah), saat beraksi dalam JogjaROCKarta International Music Festival 2017 di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Jumat (29/9/2017). (ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)

Apa jadinya bila legenda hidup bertemu dengan legenda rakyat? Nyatanya hal tersebut terjadi. Dream Theater merupakan salah satu legenda hidup dari band beraliran metal progresif yang dipuja para musisi di seluruh dunia akan kemampuannya.

Bertanya soal kemampuan masing-masing personil dalam memaksimalkan alat musik, band beranggotakan lima orang tersebut telah menjawabnya melalui karya "berisik" mereka yang diakui bertabur skill di atas rata-rata.

Legenda musik ini sempat diagendakan untuk "bertemu" dengan karya dari legenda rakyat Bandung Bondowoso, yaitu Candi Prambanan. Bertajuk JogjaROCKarta International Rock Music Festival 2017, sebuah pesta pagelaran musik rock berkelas dunia disajikan dalam satu pertunjukkan untuk mempertemukan dua legenda tersebut.

Namun, hal tersebut urung terjadi, sebab tiba-tiba panggung pertunjukkan megah yang seharusnya mampu memperkenalkan indahnya Candi Prambanan di mata dunia harus dipindahkan di saat detik-detik terakhir ke Stadion Kridosono, Yogyakarta.

Laiknya Bandung Bondowoso yang dalam cerita rakyat dikisahkan berjuang untuk membangun 1.000 candi hanya dalam waktu semalam, panggung Dream Theater tampil juga harus dipindahkan dalam waktu semalam.

Padahal menurut pernyataan resmi Rajawali Indonesia Communication selaku penyelenggara JogjaRockArta, secara infrastruktur panggung berskala internasional tempat Dream Theater tampil sudah terbangun panggung sekira 70 persen namun harus dibongkar dan dipindahkan lagi ke Stadion Kridiosono, Yogyakarta, tempat yang memang menjadi lokasi awal konser.

Pekerja membongkar panggung untuk konser Dream Theater (DT) di Taman Wisata Candi Prambanan, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (28/9/2017)(ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)


Alasan Pemindahan

Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) memprotes keras terhadap penyelenggaraan JogjaRockarta International Rock Music Festival 2017 di Prambanan, Jogjakarta pada 29-30 September 2017.

IAAI mengatakan dari digelarnya festival rock dapat menghasilkan efek merusak pada struktur ikatan batu candi, sebab toleransi kekuatan suara hanya dibatasi 60 dB untuk menjaga kelestarian struktur candi.

Sementara ambang batas untuk getaran bangunan sebesar 2 mm/detik yang dapat menghasilkan efek merusak pada struktur ikatan batu candi apabila digelar musik rock.

Ketua Umum IAAI Djuwita Ramelan mendesak agar instansi terkait meninjau kembali izin tersebut, serta dipindahkan. 

"Kompleks Candi Prambanan merupakan situs agama yang memiliki nilai sakral bagi umat Hindu dan halam dua di mana tempat diadakan pagelaran termasuk wilaya suci karena masih masuk lingkup pagar candi. Secara etika seharusnya pihak penyelenggara memperhatikan nilai kesucian yang dapat menyinggung perasaan umat beragama," katanya.

Menanggapi itu CEO Rajawali Indonesia Communications, Anas Syahrul Alimi sebagai penyelengara memilih untuk mengalah dan tidak mengambil risiko yang lebih besar, mengingat Dream Theater merupakan band papan atas dunia.

Demi menghargai situs budaya lokal dan nama baik Indonesia di mata dunia pihak penyelanggara memilih memindah ke lokasi lain yang tidak memiliki kendala polemik. Selain itu suara yang dihasilkan agar lebih maksimal tanpa merusak kualitas pertunjukkan musik.



Gitaris Dream Theater, John Petrucci, dalam penampilan band metal progresif itu di JogjaROCKarta International Music Festival 2017 di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Jumat (29/9/2017). (ANTARA /Andreas Fitri Atmoko)


JogjaROCKarta

Meski menghadapi tugas berat memindahkan set panggung berkualitas internasional dalam waktu semalam, JogjaROCKarta International Rock Music Festival 2017, tetap terselenggara dengan baik pada 29-30 September 2017 di Stadion Kridosono.

Dream Theater tampil dua kali dalam dua hari penyelenggaraan JogjaROCKarta, dengan mengusung tema "Image and Words" sebagai perayaan 25 tahun album kedua mereka yang berjudul serupa dan rilis pada 1992 silam.

Pada penyelenggaraan konser hari pertama, sebelum John Petrucci (gitaris), John Myung (bassis), Jordan Rudess (keyboardis), James LaBrie (vokalis) dan Mike Mangini (drumer) membuat "berisik" Yogyakarta, dua band sebelum mereka juga mendapat sambutan antusias dari para penonton, yakni dua nama besar rock Tanah Air, Power Metal dan God Bless.

Tidak bisa dipungkiri keduanya masih menjadi legenda hidup bagi para penggemar musik rock di tanah air. Lengkingan suara Arul Efansyah, vokalis Power Metal, saat membawakan lagu andalan "Timur Tragedi" mampu membawa penonton berjingkrak mengguncang Kota Gudeg tersebut.

Tarian "Headbanging" khas anak rock serentak dilakukan tanpa saling menggangu satu sama lain. Setelah itu, giliran God Bless muncul membawa kembali "romantika rock" era 80an.

"Rumah Kita" dan "Panggung Sandiwara" yang dibawakan secara akustik mampu paduan suara dadakan di antara kerumunan penonton JogjaROCKarta. Sebelum akhirnya, "Musisi" dan "Semut Hitam" memberikan energi baru bagi lautan manusia di Stadion Kridosono yang "haus" suara distorsi.

Aransemen sentuhan etnik disajikan God Bless dalam membawakan kembali lagu-lagu di album "Cermin" (1982) yang membawa penonton seakan lupa bahwa Dream Theater-lah yang menjadi puncak pertunjukkan.

Akhirnya, sesi Dream Theater tiba, keseluruhan pembuka konser berjalan tertib dan tepat waktu sampai saatnya James LaBrie menyapa penggemarnya di Yogyakarta.

Para "profesor" musik ini menghentak panggung tepat pukul 21.00 WIB dan berjanji akan menyajikan karyanya selama durasi tiga jam serta mengajak penonton untuk bertahan bersama.

"As I Am" menjadi salah satu lagu awal yang dimainkan, solo bass Myung membuka intro lagu "As I Am" guna memanaskan suasana. Di tengah lagu "As I Am", tiba-tiba Petrucci, Mangini, Rudes serta Myung berimprovisasi menyelipkan intro lagu "Enter Sandman" dan LaBrie tanpa sungkan-sungkan lantang menyanyikan lirik lagu Metallica tersebut.

Improvisasi tersebut sontak membuat penonton lebih beringas bergoyang dan sahut-sahutan teriak membuncah dalam keriaan yang tercipta akibat ulah Petrucci dkk.

Secara penuh Dream Theater membawakan lagu dalam album "Images dan Words" dari mulai "Pull Me Under" hingga "Learning to Live". Banyak kejutan-kejutan aransemen diberikan pada tiap-tiap lagu, yang rata-rata secara kesamaan hampir mirip dengan detail di album rekaman mereka.

Salah satunya aransemen paling membuat penonton tercengang adalah pada bagian lagu "Metropolis part 1: The Miracle And The Sleeper". Lagu berdurasi 9:30 menit tersebut diselipi dengan solo drum dari Mike Mangini. Dilanjutkan kemudian tempo ketukan progresif dengan konsep unisound atau seluruh personil memainkan nada yang sama dengan tempo serta ketukan drum yang tepat tanpa ada kesalahan sama sekali.

Setelah tepukan penonton usai lagu itu selesai, LaBrie mengatakan bahwa suatu saat Dream Theater harus ke Indonesia lagi namun bukan untuk pertunjukkan, melainkan sebagai turis, sebab ia mengungkapkan keindahan Indonesia namun belum sempat untuk menikmatinya.

Ia juga sempat menyampaikan penyesalannya karena tidak dapat bermain di lokasi yang menakjubkan, Candi Prambanan, padahal Dream Theater sudah menantikan bermain dengan latar belakang candi yang menurut mereka sangat megah tersebut.

Usai seluruh lagu dibawakan dalam durasi tiga jam, mereka menyatakan pamit serta undur diri dari panggung. Meski suasana dilanda gerimis, penonton tetap meminta encore dari Dream Theater, padahal semua personil telah mundur dari panggung.

"We want more!! We want more!!" teriakan penonton makin kencang, sembari sebagian menyebutkan judul-judul lagu populer Dream Theater seperti "The Spirit Carries On", "Yste Jam", "The Dance of Eternity", "Strange De Javu". 

Myung menjadi personel pertama Dream Theater yang menuruti permintaan penonton, menyeruak ke atas panggung, mengambil bass kembali dan memainkan intro "A Change of Seasons". 

Lagu berdurasi sepanjang 23 menit 9 detik itu cukup panjang untuk sebuah encore, menutup konser yang membekas di antara para penonton yang sudah mengular sejak pukul 14.00 WIB dan pulang ke tempat masing-masing sembari menyempatkan berswafoto di titik-titik kenangan mereka.

Oleh
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar