Jakarta (ANTARA News) - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan biaya penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-WB masih lebih murah dibandingkan negara serupa yang pernah menjadi tuan rumah, di luar Amerika Serikat.

"Indonesia menganggarkan Rp810 miliar. Ini lebih kecil dibandingkan negara yang baru menjadi host seperti Peru, Tokyo dan negara lain," kata Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI membahas RKA Kementerian Keuangan untuk RAPBN 2018 di Jakarta, Rabu.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp672 miliar dalam RAPBN 2018, didukung anggaran Bank Indonesia sebanyak Rp137 miliar, untuk penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-WB di Bali pada Oktober 2018.

Ia menjelaskan dana tersebut masih lebih kecil dari biaya yang dikeluarkan Peru pada 2015 yaitu mencapai Rp2,29 triliun yang digunakan untuk membangun tempat pertemuan dan belum termasuk biaya tambahan lainnya untuk akomodasi.

Biaya yang lebih tinggi juga dikeluarkan Jepang yaitu mencapai Rp1,1 triliun pada 2012, Turki sebesar Rp1,25 triliun pada 2009 dan Singapura sebesar Rp994,4 miliar pada 2006.

"Untuk Tokyo, hotel sudah ada, tidak ada construction cost, tapi ada biaya yang tinggi karena biaya hidup yang tinggi, sehingga total biaya mencapai Rp1,1 triliun. Ini dikeluarkan oleh institusinya yakni Kemenkeu dan bank sentral," papar Sri Mulyani.

Ia memastikan sebagian besar dari anggaran Rp672 miliar tersebut akan dimanfaatkan untuk pengadaan barang dan jasa yang dibutuhkan bagi tugas-tugas kesekretariatan, sistem teknologi informasi maupun "branding" media.

"Ini untuk meeting room set up dan office equipment, semuanya memakai vendor dalam negeri, termasuk nantinya berbagai barang yang sudah dibeli ini bisa dipakai kembali atau dihibahkan," tutur Sri Mulyani.

(T.S034/C004)

Pewarta: Satyagraha
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2017