counter

170 tumpeng ramaikan gerebek suran di Wonosobo

170 tumpeng ramaikan gerebek suran di Wonosobo

Dokumentasi Grebeg Tumpeng Suro. Warga mengarak tumpeng raksasa berkeliling kampung di Pekulo, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (20/9/2017). Sebanyak 20 tumpeng raksasa dan gunungan hasil bumi itu, diarak untuk menyambut pergantian tahun Islam (Muharam) atau dalam kalender Jawa dikenal dengan bulan Suro. (ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)

Kita semua perlu menyadari adanya skenario besar yang dibuat pihak-pihak tertentu, yang menginginkan ketidakharmonisan dalam masyarakat. Bahkan selain dengan adu domba, juga dengan memunculkan isu-isu bernuansa SARA."
Wonosobo (ANTARA News) - Sebanyak 170 tumpeng nasi beserta lauk pauk meramaikan tradisi gerebek suran untuk menyambut Tahun Baru Islam 1439 Hijriah di Alun-Alun Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu.

Gerebek yang diselenggarakan Pemkab Wonosobo bekerja sama dengan Kodim 0707/Wonosobo, Polres Wonosobo, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Wonosobo tersebut mendapat dukungan dari masyarakat.

Sebanyak 170 tumpeng yang diusung oleh jajaran Forkompinda dan umat lintas agama tersebut kemudian dimakan barsama-sama oleh masyarakat yang hadir di Alun-Alun Wonosobo.

Tanpa memandang dengan siapa mereka memakan nasi beserta lauk yang tersedia, semua warga terlihat lahap menghabiskannya. Hal itu sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dari digelarnya acara yang menurut Dandim 0707/Wonosobo Letkol Czi Dwi Hariyono selaku ketua panitia adalah untuk menjaga keakraban dan kerukunan masyarakat.

"Di sini kita makan, masak, dan berdoa bersama-sama tanpa perlu merisaukan perbedaan agama atau keyakinan," katanya.

Di tengah gelaran gerebek yang juga diisi pertunjukan beberapa jenis kesenian khas Wonosobo tersebut diselipkan pula acara masak dan doa bersama serta ikrar kebhinekaan.

Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagyo dan Ketua DPRD Kabupaten Wonosobo Afif Nurhidayat serta unsur forum koordinasi pimpinan daerah, hingga para pemuka agama terlihat menyiapkan tumpeng dan masakan secara bersama untuk masyarakat.

Menurut Dandim hal ini merupakan simbolisasi yang menunjukkan bahwa keberagaman di Wonosobo bukan menjadi sebuah persoalan, melainkan justru menjadi modal kuat untuk maju bersama.

"Keberagaman di Indonesia ini beberapa waktu terakhir tengah banyak diuji, sehingga dengan adanya acara suran lintas agama dan budaya ini, kita berharap Wonosobo bisa menjadi contoh yang baik, terkait bagaimana membina keberagaman dan kerukunan," katanya.

Wakil Bupati Wonosobo, Agus Subagyo mengatakan suksesnya gerebek suran massal lintas agama dan budaya layak diapresiasi tinggi.

Ia mengaku sangat bangga melihat masyarakat begitu kompak, rukun, dan bersedia menjaga toleransi dengan sesama maupun dengan yang berbeda keyakinan. Bekal berupa kerukunan antarumat beragama merupakan modal bagi kelangsungan pembangunan daerah.

Ketua FKUB Kabupaten Wonosobo, Zainal Sukawi mengaku sangat bersyukur dengan terselenggaranya gerebek suran massal lintas agama di Wonosobo.

Ia mengatakan kerukunan umat beragama merupakan modal berharga bagi terjaganya kondusifitas daerah.

"Kita semua perlu menyadari adanya skenario besar yang dibuat pihak-pihak tertentu, yang menginginkan ketidakharmonisan dalam masyarakat. Bahkan selain dengan adu domba, juga dengan memunculkan isu-isu bernuansa SARA," katanya.

Oleh karena itu, katanya FKUB senantiasa berupaya menciptakan situasi dan kondisi yang nyaman di Wonosobo, termasuk salah satunya dengan bergandengan tangan menyambut ajakan Polres untuk menggelar Festival Suran.

Pewarta: Heru Suyitno
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar