Maruarar koreksi Djayadi Hanan

Maruarar koreksi Djayadi Hanan

Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR Maruarar Sirait (tengah) bersama Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan (kiri), dan anggota Fraksi Partai Golkar DPR Ace Hasan Syadzily (kanan) menjadi nara sumber dalam rilis hasil survei terkait elektabilitas dan kinerja pemerintahan Joko Widodo di Jakarta, Kamis (5/10/2017). (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Bu Mega masuk partai bukan pada tahun 1994, tapi 1986. Bu Mega tokoh yang menjalani jalan panjang politik sejak lama...."
Jakarta (ANTARA News) -  Secara kualitatif, sosok tokoh partai dan seorang calon presiden akan sangat berdampak pada kenaikan maupun penurunan dukungan kepada partai politik.  

PDI Perjuangan misalnya dapat berkah elektoral dengan suara partai mencapai 34 persen pada Pemilu 1999 sebagai dampak dari ketokohan Megawati Soekarnoputri. Atau Partai Demokrat yang mencapai 21 persen pada Pemilu 2009 karena ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Bu Mega masuk politik tahun 1994, lalu pada Pemilu 1999 PDI Perjuangan dapat suara 34 persen," kata  Direktur SMRC Djayadi Hanan, dalam rilis hasil survei Saiful Mujani Research Institute (SMRC) di Menteng, Jakarta Pusa, Kamis (5/10).  

Hadir dalam paparan survei dengan tema "Kecenderungan Dukungan Politik Tiga Tahun Presiden Jokowi" ini menghadirkan narasumber dari partai politik. Yaitu, politikus PDI Perjuangan Maruarar Sirait, juga ada politikus Golkar TB Ace Hasan Syadzali dan politikus Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsudin.

Maruarar pun langsung mengkorekasi Djayadi Hanan. Dengan penuh pembelaan pada sosok Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Maruarar meluruskan dan mengkoreksi Djayadi Hanan.

"Bu Mega masuk partai bukan pada tahun 1994, tapi 1986. Bu Mega tokoh yang menjalani jalan panjang politik sejak lama, dan dimulai dari bawah menjadi Wakil ketua PDI Cabang Jakarta Pusat. Makanya keteguhan, idealisme dan ideologi Bu Mega sangat teruji dan matang sehingga menjadi pemimpin yang ideologis. Makanya PDI Perjuangan juga solid di bawah kepemimpinan beliau," ungkap Maruarar dalam keterangan persnya.

Maka, sambung Maruarar, tidak heran bila data elektabilitas 2017 partai paling tinggi masih berada di tangan PDI Perjuangan. Rinciananya, PDIP 27,1 persen; Golkar 11,4 persen; Gerindra 10,2 persen; Demokrat 6,9 persen; PKB 5,5 persen; PKS 4,4 persen; PPP 4,3 persen; PAN 3,6 persen; Nasdem 2,4 persen; Perindo 2 persen; Hanura 1,3 persen.

Djayadi kemudian menjelaskan bahwa setelah tiga tahun Presiden Jokowi memerintah kecenderungan dukungan politik pada Jokowi untuk kembali menjadi presiden sejauh ini semakin kuat. Belum ada tokoh lain yang kompetitif terhadap Jokowi.

Djayadi juga menjelaskan, data itu didapat dari survei yang digelar pada 3-10 September 2017 dengan 1.057 responden di seluruh Indonesia yang mempunyai hak pilih. Responden dipilih secara random. Margin of error 3,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Pewarta: Ruslan Burhani
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar