PBB ingatkan Asia Pasifik soal bencana alam yang merusak

PBB ingatkan Asia Pasifik soal bencana alam yang merusak

Para pemimpin dunia dan delegasi dari 193 negara anggota menghadiri sesi Debat Umum di Sidang Majelis Umum PBB ke-72 di New York, Amerika Serikat, Selasa (19/9/2017). (ANTARA/Aditya Wicaksono )

Asia Pasifik yang menjadi rumah bagi 60 persen populasi dunia adalah wilayah yang paling rawan bencana di planet ini.
Kuala Lumpur (ANTARA News) - Bencana alam bisa jadi lebih merusak di Asia Pasifik, dengan perbandingan satu orang paling tidak telah lima kali atau lebih terkena dampak dibandingkan wilayah lain.

Pernyataann tersebut disampaikan PBB pada Selasa, dan mendesak negara-negara lain untuk berinvestasi dalam rencana ketahanan.

Asia Pasifik yang menjadi rumah bagi 60 persen populasi dunia adalah wilayah yang paling rawan bencana di planet ini.

Banjir, badai dan suhu ekstrem pada tahun lalu menewaskan 4.987 orang, jauh lebih sedikit dari rata-rata tahunan sejak 1970, dan mempengaruhi sekitar 34,5 juta orang lainnya di muka bumi, menurut Laporan Bencana Asia Pasifik 2017.

Negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah biasanya menjadi pihak yang paling tidak dapat mempersiapkan dan merespon bahaya bencana alam.

Mereka menderita jumlah kematian sekitar 15 kali lebih banyak akibat bencana dari pada negara-negara Asia yang lebih kaya, kata laporan yang dikeluarkan oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP).

Bencana memiliki efek yang sangat mengganggu pada penghidupan dan kerugian lebih lanjut mengenai masyarakat lemah, banyak di daerah pedesaan, dan mendorong mereka lebih ke dalam kemiskinan, katanya.

Selain korban jiwa, penelitian ESCAP menunjukkan bahwa antara tahun 2015 dan 2030, 40 persen kerugian ekonomi global akibat bencana alam akan terjadi di kawasan Asia Pasifik.

"Ini juga menunjukkan bahwa bencana alam di masa depan mungkin memiliki potensi merusak yang lebih besar," kata ESCAP dalam sebuah pernyataan.

Komisi tersebut mengatakan bahwa risiko bencana yang diperburuk oleh perubahan iklim kemungkinan akan meningkat di wilayah ini.

Bencana tersebut termasuk gelombang panas yang lebih mengancam jiwa, memburuknya banjir dan kekeringan, badai tropis yang lebih sering dan kuat, dan musim hujan yang lebih berat di Asia Timur dan India.

Kepala ESCAP Shamshad Akhtar mendesak negara-negara untuk mengisi kesenjangan dalam rencana mereka menghadapi bencana.

"Tidak adanya budaya asuransi yang dilembagakan dan pendanaan pasca bencana yang memadai mengancam pencapaian ekonomi dan pembangunan kita secara luar biasa," katanya.

Menurut laporan tersebut, negara-negara yang menghadapi kerugian ekonomi terbesar akibat bencana adalah ekonomi terbesar di kawasan ini seperti Jepang dan China.

Namun negara-negara pulau yang paling tidak berkembang dan kecil bisa terkena dampak paling parah, kehilangan antara 2,5 dan empat persen dari produk domestik bruto mereka setiap tahunnya.

ESCAP menyerukan tindakan untuk mengurangi risiko bencana terkait dengan perubahan iklim, termasuk menyiapkan pranata peringatan dini regional dan investasi dalam pendidikan risiko bencana.

Dikatakan bahwa membangun ketahanan bencana ke dalam rencana pembangunan pertanian sangat penting, karena studi menunjukkan sebagian besar masyarakat miskin di Asia-Pasifik adalah petani di daerah pedesaan.

"Hal ini penting untuk memperbaiki mata pencaharian dan mengurangi kemiskinan," kata laporan tersebut.

Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar