Lula Kamal berbagi cara agar rumah bebas nyamuk

Lula Kamal berbagi cara agar rumah bebas nyamuk

dr. Lula Kamal (ANTARA News/ Lia Wanadriani Santosa)

Sekarang, ada jam-jam tertentu yang kami menyemprot juga. Pakai siklus.
Jakarta (ANTARA News) - Presenter yang juga merupakan seorang dokter, Lula Kamal punya cara agar rumahnya terbebas dari nyamuk penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD). 

"Mengajarkan pada anak-anak, yang pertama di rumah sudah enggak pakai bak lagi. Jadi shower semua," ujar dia di Jakarta belum lama ini. 

Kendati begitu, Lula mengakui masih memiliki bak mandi, untuk keperluan khusus.  

"Kalau orang tua menginap, mandinya harus pakai gayung. Jadi kami punya bak tetapi kering. Jadi, kalau dia datang dan mau mandi diisi baknya. Tetapi kalau sudah selesai, kering lagi," kata dia.

Lula juga tak lagi menyimpan vas-vas bunga terutama yang ada wadah penampung airnya serta meminta para anggota keluarganya peka kala ada air menggenang di wadah dispenser. 

Wadah - wadah tempat air menggenang biasanya merupakan lokasi empuk nyamuk bertelur. 

"Mengajarkan pada anak-anak, kalau melihat dispenser airnya menetes ke wadah, airnya dibuang. Itu bukan tugas satu orang. Di rumah, kalau sudah bicara yang tergenang-tergenang, sudah minimalis," tutur dia. 

Selain itu, Lula juga menyemprot cairan insektisida di area rumahnya, namun dengan catatan saat anak-anak dan anggota keluarga lainnya tak berada di rumah. 

"Sekarang, ada jam-jam tertentu yang kami menyemprot juga. Pakai siklus. Biasanya mengambil jam saat anak-anak sudah berangkat ke sekolah. Jadi pas menyemprot, anak-anak sedang tidak di rumah," papar Lula. 

Dia juga sebisa mungkin tak lagi menggantung baju-baju setelah dipakai, karena bisa menjadi tempat berkumpul nyamuk. 

"Punya baju digantung, mengumpul itu nyamuk. Nyamuknya makin pintar, makin hebat beradaptasi lingkungan, kita juga harus berubah caranya. Cara yang kita pakai setahun, atau dua tahun lalu sudah enggak pas sekarang," pungkas Lula. 

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar