Prof Jamhari: pesantren dapat meniru modernisasi Jepang

Prof Jamhari: pesantren dapat meniru modernisasi Jepang

Dokumentasi Pondok Pesantren Dalam Lapas. Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly (tengah depan) duduk bersama petugas dan para santri Pondok Pesantren At Taubah di Lapas Kelas I Lowokwaru, Malang, Jawa Timur, Senin (5/6/2017). Pondok pesantren tersebut sengaja didirikan sebagai upaya pembelajaran, kajian religius, serta upaya penyadaran bagi sekitar 400 santri yang merupakan narapidana. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto) ()

Biasanya orang Islam takut sekali kalau sekolah atau pendidikannya berubah kemudian akan ikut mengubah jati diri Islamnya...."
Jakarta (ANTARA News) - Inisiator program pengiriman guru agama dan pimpinan pesantren Indonesia ke Jepang Profesor Jamhari Makruf melihat banyak nilai modernisasi yang bisa ditiru dari Negeri Sakura tanpa harus kehilangan jati diri bangsa.

"Biasanya orang Islam takut sekali kalau sekolah atau pendidikannya berubah kemudian akan ikut mengubah jati diri Islamnya. Jepang bisa memberi contoh meskipun berkembang menjadi negara maju dan modern, tetapi nilai-nilai budaya aslinya masih tertanam dengan sangat baik," ujar Jamhari usai acara Penyampaian Laporan Hasil Program Kunjungan Pimpinan Pesantren ke Jepang tahun 2017 di Jakarta, Kamis malam.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu menyebut beberapa nilai budaya Jepang yang patut dicontoh oleh sekolah dan pesantren di Tanah Air antara lain kebersihan, kedisiplinan, menghargai waktu, ramah dan sopan santun, saling menghormati, etos kerja yang tinggi, kreativitas dan inovasi, serta kemajuan teknologi.

Dengan mengikuti program kunjungan selama 10 hari di Jepang, guru dan pimpinan pesantren Indonesia diharapkan dapat membagikan inspirasi dan pengalamannya mengamati dan merasakan tinggal di tengah-tengah masyarakat Jepang kepada para santri di daerah asal masing-masing.

Program yang bertujuan memperdalam pemahaman antara Jepang dan masyarakat Muslim Indonesia dilaksanakan setiap tahun sejak 2004 dengan pembiayaan penuh dari pemerintah Jepang.

Tahun ini, sebanyak sembilan guru dan pimpinan pesantren serta seorang pendamping dari Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN mengunjungi Tokyo, Hiroshima, dan wilayah Kansai untuk melakukan berbagai kegiatan antara lain peninjauan ke sekolah, program homestay, dan dialog lintas agama pada 3-12 Oktober.

Proses seleksi dilakukan oleh PPIM dengan menilai pesantren-pesantren yang berpengaruh di wilayahnya, jumlah santrinya cukup banyak, kiainya dipandang oleh masyarakat sekitar, serta memiliki sekolah formal yang bisa dikembangkan.

Salah satu kisah sukses dari program kunjungan para pimpinan pesantren ke Jepang dapat dilihat dari sebuah pesantren diniyah putri di Padang Panjang, Sumatera Barat.

"Kini selain terinspirasi untuk membuat pesantrennya lebih bersih dan nyaman, pesantren tersebut telah bekerja sama dengan sekolah di Jepang untuk program pertukaran pelajar. Jadi setiap tahun beberapa santri dari Sumatera Barat dikirim ke Jepang dengan biaya mereka sendiri," ujar Jamhari.

Kesuksesan program kunjungan pimpinan pesantren ke Jepang ternyata menarik minat guru-guru agama dari negara lain untuk berpartisipasi dalam program serupa.

Pada 2016 sebanyak 10 pimpinan pesantren dari Malaysia telah mengikuti langkah Indonesia, dan saat ini guru-guru agama dari Filipina sedang menjajaki keikutsertaan mereka untuk program yang sama.

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar