Penetapan kawasan seribu rumah gadang sebagai cagar budaya lestarikan kampung adat

Penetapan kawasan seribu rumah gadang sebagai cagar budaya lestarikan kampung adat

Dokumentasi - Seorang anak melintas di depan rumah adat, kawasan Seribu Rumah Gadang, di Nagari Koto Baru, Kab. Solok Selatan, Sumatera Barat, Rabu (3/8/2016). (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Padang Aro, (ANTARA News) - Bupati Solok Selatan, Sumatera Barat, Muzni Zakaria menyebutkan penetapan kawasan seribu rumah gadang sebagai cagar budaya merupakan tahapan pelestarian serta pengembangan daerah itu menjadi destinasi wisata kampung adat.

"Penetapan cagar budaya sudah kami tunggu-tunggu dari dulu. Ini upaya dalam melestarikan dan mengembangkan potensi rumah gadang agar bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat," ujarnya di Padang Aro, Jumat.

Pemerintah Kabupaten Solok Selatan siap bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Batusangkar untuk mempercepat terwujudnya penetapan kawasan rumah gadang yang terletak di Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Pagu sebagai cagar budaya.

Langkah nyata lainnya pemerintah setempat dalam mengembangkan kawasan dengan ratusan rumah gadang yang beragam corak itu, sebutnya, juga mendatangkan arsitek nasional Yori Antar dan sutradara serta produsen film Jay Subyakto.

"Mereka berdua sengaja kami undang ke Solok Selatan agar bisa memberikan sumbangan pikiran dalam mengembangkan kawasan seribu rumah gadang," ujarnya.

Yori Antar dan Jay Subiakto berada di Solok Selatan selama beberapa hari, sejak 10 Oktober 2017, untuk memberikan ide dalam mengembangkan kawasan seribu rumah gadang.

"Kami juga siap menerima masukan-masukan dan bimbingan untuk pengembangan kawasan seribu rumah gadang ke depan dari Yori Antar dan kawan kawan maupun dari Balai Pelestarian Cagar Budaya," tambahnya.

Sementara Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumbar, Riau dan Kepulauan Riau, Nurmatias menyebutkan kawasan seribu rumah gadang memiliki rumah adat Minangkabau yang paling variatif dibanding daerah lain.

"Ini merupakan aset yang harus jaga kelestariannya dengan cara mengembangkannya menjadi daerah tujuan wisata," lanjutnya.

Yori Antar mengakui bahwa dirinya menemui keindahan dan keunikan yang luar biasa ketika berkunjung ke kawasan seribu rumah gadang.

Kawasan seribu rumah gadang sudah siap menjadi desa wisata, apalagi telah muncul homestay yang memanfaatkan rumah gadang.

Setidaknya di kawasan tersebut telah ada sepuluh homestay.

"Homestay bersih, ada pangan lokal, dan hal-hal lain yang akan menarik banyak orang," katanya.

Namun, sebut pendekar arsitektur nusantara ini banyak bangunan-bangunan rumah gadang tersebut yang hampir punah.

"Jangan biarkan satu rumah gadang pun yang hilang," ujarnya.

Yori Antar mengaku siap membantu dalam mengemas kawasan seribu rumah gadang sebagai destinasi wisata kampung adat, tapi bukan berbentuk proyek, melainkan mesti bekerja sama dengan masyarakat.

"Kita telah bangun rumah-rumah adat di 15 daerah di Indonesia, termasuk di Nias dan juga Sumpur(Sumbar). Semuanya dibangun dengan bergotong royong dengan masyarakat," terangnya.

Dalam kawasan seribu rumah gadang terdapat terdapat 113 rumah gadang, dua masjid dan satu mushala serta satu kuburan Syekh Maulana Ibrahim yang direncanakan masuk dalam cagar budaya yang berada di lahan selias 26 hektare.

(T.KR-IFT/B/H014/H014) 13-10-2017 08:01:11

Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar