Pengungsi Rohingya di Bangladesh capai 536.000

Pengungsi Rohingya di Bangladesh capai 536.000

Sejumlah pengungsi Rohingya antri untuk mendapatkan paket makanan dari relawan Indonesia di Kamp Pengungsian Kutupalong, Cox Bazar, Bangladesh, Minggu (1/10/2017). Relawan dari berbagai organisasi yang tergabung dalam Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) menyalurkan 1.000 paket bantuan kepada pengungsi Rohingya. (ANTARA/Akbar Nugroho Gumay)

Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB, New York (ANTARA News) - Jumlah pengungsi Rohingya yang menyelamatkan diri dari Negara Bagian Rakhine di Myanmar Utara ke Bangladesh telah mencapai 536.000 dengan 14.000 orang di antaranya menyeberangi perbatasan dalam dua hari terakhir menurut juru bicara PBB pada Kamis (12/10).

Badan-badan kemanusiaan PBB melaporkan bahwa hingga Rabu "jumlah pengungsi yang menyelamatkan diri dari Myanmar ke Bangladesh sejak akhir Agustus telah mencapai 536.000 dan 14.000 telah menyeberangi perbatasan dalam dua hari terakhir," kata Juru Bicara PBB Farhan Haq.

Dia juga mengatakan Wakil Sekretaris Jenderal PBB Urusan Politik Jeffrey Feltman dijadwalkan mengunjungi Myanmar pada Jumat sampai Selasa untuk berdiskusi dengan para pejabat Myanmar.

Haq mengatakan kunjungan tersebut dilakukan setelah Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berulangkali menyerukan "penghentian operasi militer dan kekerasan di Negara Bagian Rakhine di Myanmar Utara, akses tanpa halangan bagi dukungan kemanusiaan dan pemulangan pengungsi secara aman, sukarela serta bermartabat ke daerah asal mereka".

"Pembahasannya juga akan fokus pada pembangunan kerja sama yang konstruktif antara Myanmar dan PBB guna mengatasi masalah mendasar yang mempengaruhi semua masyarakat di daerah terkait," kata Juru Bicara PBB itu sebagaimana dikutip Xinhua.

Kepada wartawan di Markas Besar PBB, Haq juga mengatakan bahwa organisasi anak PBB (UNICEF) dan Pemerintah Bangladesh telah sepakat untuk secepatnya membangun 10.000 WC di kamp dan permukiman buat pengungsi di Coxs Bazar, tempat sebagian besar pengungsi ditampung.

Tujuannya ialah menghindari "wabah penyakit utama", katanya, menjelaskan bahwa pembangunan setiap WC akan memerlukan biaya di bawah 150 dolar AS, tapi akan mencakup pemenuhan kebutuhan sanitasi 150.000 orang.

"UNICEF menyatakan sudah ada laporan mengenai penyakit yang menular melalui air tercemar di beberapa kamp, dan menekankan perlunya untuk meningkatkan cakupan sanitasi," kata Haq. (Uu.C003)

Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar