counter

Ratusan pengungsi gempa Lembata masih takut pulang

Ratusan pengungsi gempa Lembata masih takut pulang

Lokasi pusat gempa berkekuatan 4,9 pada skala Richter di Lembata, Nusa Tenggara Timur, pada 11 Okt 2017, pukul 06:10:18 WIB. (ANTARA News/BMKG)

Sampai dengan hari ini jumlah pengungsi ya mencapai 711 jiwa yang ditampung di kamp pengungsian yang disiapkan oleh Pemda
Kupang (ANTARA News) - Sebanyak 711 pengungsi gempa Lembata dari kecamatan Ile Ape Timur masih ditampung di kamp pengungsian karena takut kembali ke rumah mereka akibat gempa bumi yang terjadi beberapa pekan lalu, kata Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday, Selasa.

"Sampai dengan hari ini jumlah pengungsi ya mencapai 711 jiwa yang ditampung di kamp pengungsian yang disiapkan oleh Pemda," katanya saat dihubungi dari Kupang.

Ia mengatakan jumlah pengungsi yang ditampung tersebut setelah didata berasal dari tiga desa berbeda yakni dari Lamawara, Lamagute serta dari Waimatan yang dampak gempanya sangat terasa.

Thomas merincikan untuk dari desa Lamagute jumlah pengungsinya mencapai 371 jiwa, desa Waimatan jumlah pengungsinya mencapai 276 jiwa, sementara itu untuk desa Lamawara mencapai 84 jiwa.

Menurut Thomas ratusan pengungsi itu hingga saat ini masih menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke rumahnya masing-masing sambil menunggu untuk direlokasi ke daerah yang lain.

"Karena memang tiga desa itu disarankan untuk tidak dihuni lagi oleh warga setempat karena sudah sangat berbahaya," tambahnya.

Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang Brigjen TNI Teguh Muji Angkasa yang juga tengah berada di Lembata mengatakan bahwa dirinya sudah mengunjungi sejumlah warga di kamp pengungsian.

"Kemarin saya mengunjungi kamp pengungsian dan sempat berbincang-bincang dengan sejumlah korban. Mereka masih takut kembali ke rumah mereka, apalagi rumah mereka itu berhadapan depan laut dan belakangnya bukit bebatuan dan jika gempa lagi akan menimbulkan reruntuhan batu yang lebih banyak," tambahnya.

Ia mengatakan bahwa menurut petugas Vulkanologi dan Mitigasi tiga kampung tersebut memang sudah dianjurkan untuk tidak ditempati. Karena memang sudah sangat berbahaya.

Oleh karena itu Pemerintah sempat masih membutuhkan lahan baru agar masyarakat itu bisa direlokasi segera. Namun kendala lahan masih menjadi permasalahan.

"Kita bersyukur karena banyak perhatian terus berdatangan seperti bantuan terus berdatangan baik dari Pemda maupun dari instansi lainnya sehingga para pengungsi merasa terbantu," tambahnya.

Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar