Anak di India dijual sebagai budak seharga Rp100 ribu

Anak di India dijual sebagai budak seharga Rp100 ribu

Ilustrasi - Anak-anak tunawisma mengulurkan tangan dari balik pagar, menunggu untuk mengumpulkan pakaian gratis di badan amal setempat di Siliguri, India (27/9/2006). (REUTERS / Rupak De Chowdhuri )

Biswanath, India (ANTARA News) - Waktu tingginya masih selutut orang dewasa, Badaik diajak ayahnya berpetualang. Mereka berjalan kaki menyusuri kebun teh, naik bus, kemudian sampai di "sebuah tempat".

Saat anak perempuan itu melihat-lihat suasana, ayahnya lari pulang, meninggalkan Badaik seorang diri di depan pintu sebuah rumah gedongan.

Si ayah diketahui menjual anaknya sendiri seharga 500 rupee atau setara Rp100.000.

Badaik tumbuh sebagai pembantu rumah tangga di kawasan utara India, negara bagian Arunachai Pradesh, atau sekitar 50 km dari rumahnya di negara bagian Assam.

Pada 2016, Badaik akhirnya bisa melarikan diri. Dia menggunakan jalur yang biasa digunakan oleh para pelaku perdagangan anak untuk pulang dan akhirnya menemui ibu serta rumah lamanya.

"Mungkin saya sekarang berusia 16 atau 17 tahun," kata dia kepada Reuters, saat duduk di desa New Purubari di tengah perkebunan teh di distrik Bisnawath, Assam.

Dia lahir di distrik ini, namun punya sedikit kenangan soal tempat itu.

"Saya meninggalkan rumah saat belum bisa mengingat, dan kembali setelah dewasa. Saya tidak ingat siapa keluarga saya, rumah saya. Pelan-pelan saya ingin mengembalikan memori dulu," kata Badaik.

Para penduduk desa bilang kalau Badaik beruntung ketemu jalan pulang.

Di sekitar perkebunan teh Assam, di mana para penduduk harus bertahan di tengah kemiskinan, ratusan ribu anak dikabarkan hilang, kata para aktivis lokal.

"Para pelaku dan bahkan terkadang anggota keluarga sendiri sering mengambil anak kemudian pergi," kata Moni Darnal dari lembaga Jagriti Samiti yang fokus berkampanye anti-perdagangan anak.

"Mereka mengambil anak itu saat masih berusia tiga atau empat tahun agar bisa dilatih melakukan tugas rumah tangga. Praktik ini menjadi norma sosial yang diterima," kata Darnal.

Sensus nasional di India tahun 2011 mencatat lebih dari empat juta pekerja anak usia 5-14 tahun--angka global berkisar pada 168 juta. Namun jutaan anak-anak lain berpeluang mengalami nasib sama karena kemiskinan.

Lebih dari separuh budak anak itu bekerja di sektor pertanian. Seperempat lainnya di sektor manufaktur sementara sisanya membabu mencuci piring, memotong sayuran, dan mengepel lantai.

Anak-anak itu dijual dengan harga beberapa ratus rupee oleh para orang tua yang sudah putus asa. Dalam beberapa kasus harga tersebut bisa mencapai ratusan ribu rupe (puluhan juta rupiah).

"Pada Senin, kami menyelamatkan seorang anak dari rumah seorang mantan menteri," kata Jumtim Minga, seorang aktivis anak.

"Sebagian besar para pembeli adalah tokoh-tokoh berpengaruh, banyak yang bekerja di pemerintahan. Mereka mempekerjakan anak karena tidak harus membayar apapun. Anak tidak banyak menuntut sehingga pemilik bisa memperlakukan mereka layaknya properti pribadi," kata dia.

Badaik sendiri cukup beruntung karena sangat sedikit budak anak yang bisa kembali ke rumahnya.

"Pada hari-hari pertama, saya tidak melakukan apa-apa. Hanya bermain di dalam rumah," kata Badaik.

"Lalu saya diajari bagaimana mengupas bawang. Kemudian bagaimana menyapu dan mengepel lantai, serta mencuci. Semuanya dilakukan bertahan, sampai usia delapan tahun saya bisa melakukan semuanya," kata dia.

Badaik bekerja 17 jam sehari, tidak boleh keluar rumah dan tidak punya teman. Saat mulai beranjak remaja, dia diberitahu gajinya sekitar 100 rupee atau Rp20.000 sebulan.

"Ibu majikan mengatakan bahwa gaji itu disimpan di bank dan akan menggunakannya saat saya sakit atau butuh sesuatu," kata dia.

Setelah kebetulan tidak sengaja bertemu dengan sesama pembantu, Badaik mulai mencari petunjuk pulang.

Dengan sebuah telepon genggam pinjaman, dia terus memencet angka panggilan sampai akhirnya menemukan pamannya.

Badaik kemudian meminta majikannya bantuan untuk pulang.

Mereka menolak dan menguncinya di sebuah ruangan.

Namun Badaik lolos dan menemukan kampungnya pada tahun lalu.

"Ibu memeluk dan menangis sementara ayah hanya berdiri di pojokan," kata dia.

"Saya menampar ayah, Bagaimana bisa dia meninggalkan saya di sana dan tidak pernah menjenguk?" kata Badaik.

Sekarang Badaik tengah berupaya menemukan adik perempuannya, yang juga dijual sang ayah sebagai pembantu rumah tangga.

Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar