Menelusuri Jiangmen, kampung halaman China perantau

Menelusuri Jiangmen, kampung halaman China perantau

Dermaga Haikoubu, Jiangmen, Guangdong, China, yang menjadi hulu perantauan warga China ke seluruh dunia medio 1860-an hingga 1949. (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Siang itu udara cukup gerah, pantas saja kalau beberapa orang, terutama yang berusia lanjut memilih berdiri di bawah rerimbunan pohon di tepian sungai untuk mencari angin.

Mereka bercakap-cakap dalam dialek Kanton, salah satu dialek Mandarin yang lazim dituturkan orang-orang yang berasal dari wilayah selatan China atau lazim dikenal dengan sebutan "Nanfang".

Nanfang tidak hanya berbeda topografi dengan wilayah utara, seperti Beijing, yang udaranya jauh lebih dingin, melainkan juga dalam hal bahasa dan budaya.

Pada dasarnya tidak ada perbedaan karakter Hanzi (huruf kanji) antara Kanton, Hokkian, dan Mandarin, hanya pengucapannya saja yang berbeda. Bahkan, penutur ketiga bahasa tersebut tidak saling mengerti, walaupun sama penulisannya.

Kanton dalam bahasa Mandarin dilafalkan Guangdong, merujuk nama provinsi di wilayah selatan China. Sama halnya dengan dialek Hokkian yang dalam bahasa Mandarin dilafalkan Fujian, merujuk nama provinsi tetangga Guangdong di timur laut.

Dialek Kanton dan Hokkian dituturkan oleh warga Nanfang yang selama ini dikenal sebagai kampung halaman para warga China perantau di muka bumi ini.

Jauh sebelum "manusia perahu" dari wilayah Timur Tengah dan Afrika nekat mengarungi lautan berbahaya untuk mengubah nasib karena negara mereka terus dirundung konflik, orang-orang Nanfang telah melakukannya.

Bibir dermaga Haikoubu, Jiangmen, Guangdong, China (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Wilayah yang berada di selatan tengah Provinsi Guangdong atau di barat daya muara Sungai Mutiara itu telah ditetapkan sebagai situs budaya oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB, UNESCO.

Di Taishan terdapat dermaga kecil yang diabadikan sebagai tonggak sejarah etnis Tionghoa di berbagai dunia atau dikenal sebagai dermaga Haikoubu.

"Dari sini dulu, orang-orang Nanfang memulai perjalanan ke segala penjuru dunia," kata salah satu warga Taishan, Kota Jiangmen, yang menjadi pemandu di dermaga Haikoubu.

Di pelataran dermaga Haikoubu itu berdiri pilar-pilar beton yang pada permukaannya berhiaskan potongan surat-surat yang dikirim oleh para China perantau kepada keluarganya di kampung halaman, lengkap dengan perangko dari berbagai negara.

Surat-surat warga China perantau yang ditempelkan ke pilar beton di dermaga Haikoubu. (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Dermaga yang berjarak 69 kilometer sebelah barat daya Kota Jiangmen itu menjadi saksi bisu gelombang eksodus warga Nanfang yang dimulai medio 1860-an pada masa Dinasti Qing hingga 1949 atau menjelang berakhirnya masa pemerintahan republik di daratan Tiongkok tersebut.

Dari Haikoubu mereka menyusuri alur Sungai Mutiara hingga Hong Kong. Dari Hong Kong mereka menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Ada yang menyeberangi lautan Pasifik untuk mencapai Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara di Amerika Latin.

Sebagian yang lainnya lebih memilih menyeberangi Laut China Selatan dan Selat Malaka sebelum memutuskan tinggal di Malaysia dan Indonesia.

"Jangan heran, kalau orang-orang di sini lebih mengenal Indonesia," kata Chun Qiu dari Pemerintah Kota Jiangmen, Jumat (3/11).

Kendati tidak menyebut angka, dia berani memastikan bahwa Indonesia menduduki peringkat ketiga setelah AS dan Kanada sebagai negara tujuan para perantau Jiangmen.

Salah satu diorama yang ada di dalam "Wuyi Museum of Overseas Chinese". (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Perahu yang digunakan oleh para perantau untuk menyeberangi lautan Pasifik itu kini menjadi koleksi "Wuyi Museum of Overseas Chinese", museum khusus yang menyajikan sejarah dan informasi mengenai China perantau, berikut tiket dan paspor yang dikeluarkan oleh pemerintahan republik.

Bahkan museum tersebut juga menggambarkan kisah perjalanan para perantau mulai dari menggadaikan barang-barang berharga untuk patungan membuat perahu atau membeli tiket kapal hingga mata pencaharian yang dilakukannya di negara tujuan.

Pengunjung Museum Wuyi merasakan suasana di dalam kapal yang dibuat seolah-olah terombang-ambing oleh gelombang Laut. Begitu pula patung para awak kapal dan penumpang serta jendela bulat yang menggambarkan situasi di tengah samudera turut menambah dramatis suasana.

Di wilayah Amerika, para China perantau menjadi buruh tambang dan kuli bangunan, sedangkan di Asia Tenggara lebih banyak bercocok tanam dan berdagang.


Lambang Kesuksesan

Warga Nanfang dikenal memiliki etos kerja yang tinggi. Bahkan Hong Kong bisa menjadi seperti sekarang juga tidak lepas dari peran orang-orang kreatif Nanfang yang melarikan diri saat perang sipil berkecamuk.

"Orang-orang Nanfang menabung untuk bikin perahu, kalau orang-orang di utara untuk bangun rumah," kata Zhanye Liu dari Kantor Berita Xinhua yang menemani Antara menyusuri wilayah Nanfang selama empat hari pada 1-4 November 2017.

Liu berasal dari Provinsi Hebei yang termasuk wilayah utara itu menganggap hal tersebut sebagai salah satu alasan orang-orang Nanfang lebih memilih keluar dari negaranya untuk memperbaiki taraf hidup, meskipun menjadi buruh kasar.

"Berbeda dengan di wilayah utara yang berbukit dan jauh dari mana-mana, secara geografis Nanfang lebih strategis sebagai jalur pelayaran," ujarnya menambahkan.

Pada 1920-an, hasil yang didapat dari gelombang pertama eksodus ke wilayah Amerika sudah mulai terlihat.

Uang yang mereka dapatkan dari memeras keringat sebagai buruh tambang, tukang bangunan, buruh tani, dan pedagang kelontong dikonversikan dalam bentuk bangunan rumah bertingkat.

Bangunan Dialou, yang dibangun sebagai perlambang kesuksesan warga China perantau di kampung halamannya di Jiangmen, Guangdong, China. (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Bangunan yang mereka sebut sebagai Dialou itu rata-rata berarsitektur Barat dan sedikit sentuhan Melayu. Sebagian dari Dialou itu ditempati anak cucu mereka, namun sebagian lainnya telah diserahkan kepada pemerintah.

Kompleks vila Liyuan Garden yang berlokasi di Kaiping merupakan salah satu kompleks bangunan Dialou yang diserahkan pengelolaannya kepada Pemkot Jiangmen.

Vila yang dibangun pada 1926 oleh konglomerat asal China di AS, Xie Weili, di atas lahan seluas 11.900 meter persegi itu kini menjadi musuem yang ramai dikunjungi wisatawan domestik.

Dialou dan vila tersebut menjadi salah satu perlambang kesuksesan orang-orang Nanfang di perantauan.

Tidak heran, jika sejak 1920-an hingga pecah perang sipil di daratan Tiongkok, gelombang eksodus orang-orang Nanfang makin tak terkendali.


Karpet Merah

Sampai saat ini jumlah warga Jiangmen yang menjadi penduduk tetap di berbagai negara diperkirakan lebih dari empat juta jiwa.

Menurut catatan Pemkot Jiangmen, empat juta warganya tersebut tinggal di 107 negara, termasuk Indonesia.

"Peran mereka sangat penting di sini. Kami perlu kerja sama lebih lanjut dengan Indonesia," kata pejabat Pemkot Jiangmen, Yi Zhongqiang.

Selain itu, sepertiga jumlah penduduk Makau dan 1,3 juta dari tujuh juta penduduk Hong Kong berasal dari Wuyi, salah satu kawasan di Kota Jiangmen, yang mayoritas penduduknya eksodus ke berbagai negara.

"Orang-orang itu menyebut Jiangmen sebagai rumah leluhur," kata Wakil Wali Kota Jiangmen Jiang Xiao Xiong, Rabu (1/11) malam.

Baginya, mereka yang tinggal di perantauan berpotensi memajukan Kota Jiangmen sebagaimana instruksi Presiden Xi Jinping agar turut berperan mendukung pembangunan di kawasan Jalur Sutera dan Jalur Maritim Abad ke-21 yang digagasnya dalam konsep "Belt and Road".

Karpet merah pun digelar untuk menyambut partisipasi mereka dalam pembangunan karena hanya 12 persen dari luas area 9.500 kilometer persegi yang sampai saat ini telah dikembangkan.

"Padahal Jiangmen kawasan premium karena lokasinya sangat stretegis yang bisa menghubungkan tepi barat dan tepi timur Sungai Mutiara," ujar Jiang.

Tokoh masyarakat Taishan sekaligus pemandu di muka dermaga Haikoubu. (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Selain itu, posisi Jiangmen sangat menguntungkan karena berada di dalam lingkar kawasan ekonomi terpadu Shenzhen-Hong Kong-Makau.

Kawasan-kawasan ekonomi baru pun tak henti-hentinya dibangun di Jiangmen untuk menjembatani China dengan Hong Kong, Makau, dan beberapa negara di Asia Tenggara.

Distribusi barang dan jasa tidak hanya melalui jalur sungai, melainkan pelabuhan laut dan rel kereta api karena Jiangmen juga menjadi lokasi perakitan kereta api di bawah bendera CRRC, industri kereta api milik pemerintah China.

CRRC tidak hanya mencukupi kebutuhan kereta api di wilayah selatan China, melainkan juga memproduksi kereta cepat untuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand.

Kawasan industri teknologi informasi dan ekonomi kreatif juga dibangun agar tidak ketinggalan dengan daerah-daerah sekitarnya yang lebih dulu maju,

Gayung pun bersambut. Pada tahun lalu saja, Jiangmen menerima donasi dari warganya yang merantau di berbagai negara senilai 7,41 miliar dolar HK selain dalam bentuk investasi yang nilainya mencapai 23,61 miliar dolar AS.

Produk domestik bruto (GDP) pun pada 2016 naik 7,4 persen menjadi 241,8 miliar RMB. Dan pada semester pertama 2017, GDP telah mencapai angka 126 miliar RMB.

Sektor industri menyumbangkan 104,1 miliar RMB (naik 7 persen). Investasi dalam bentuk aset tetap dan perdagangan kebutuhan pokok mencapai 151,7 miliar RMB dan 115,9 miliar RMB. Bahkan lebih dari 18 unit industri berskala nasional berbasis di kota berpenduduk 4,54 juta jiwa tersebut.

Untuk mengingatkan budaya kampung halaman, Pemkot Jiangmen menggelar karnaval setiap dua tahun sekali.

Dalam upaya menjembatani kepentingan warganya, Pemkot Jiangmen telah menjalin kerja sama dengan kota-kota yang berada di tepian sungai di AS dan Australia.

Langkah-langkah yang dilakukan Jiangmen dinilai strategis di tengah kegamangan AS dan negara-negara sekutunya dalam menatap globalisasi ekonomi perdagangan.

Oleh M. Irfan Ilmie
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar