"Sucikan diri, wahai warga samudera ..."

"Sucikan diri, wahai warga samudera ..."

Taruna AAL tingkat III/Angkatan 64 beserta personel TNI AL pengawak KRI Bima Suci mengikuti prosesi suci mandi katulistiwa di geladak KRI Bima Suci, saat melintasi garis katulistiwa di perairan Indonesia, Senin (6/11/2017). (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Mandikan mereka!"

Perairan Indonesia (ANTARA News) - “Bangun, bangun, bangun... ! Saatnya kalian menyucikan diri...!” Teriakan itu membahana, dari sejumlah personel TNI AL pengawak KRI Bima Suci, saat mereka membangunkan taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) tingkat III angkatan 64 dan yang lain-lain, yang masih tertidur pulas.


Laut sangat bersahabat saat itu. Angin berhembus kencang namun tidak sampai menghempas benda-benda yang ada di geladak kapal layar tiang tinggi kelas Bark, buatan galangan kapal Freire, di Vigo, Spanyol. Kontrak pembelian kapal layar latih tiang tinggi ini terjadi  pada masa pemerintahan Presiden keenam RI Susilo Yudhoyono.


Saat itu tepat pukul 22:00 waktu setempat saat kapal layar tiang tinggi berkelir putih dengan strip panjang berwarna biru itu melewati garis katulistiwa pada koordinat 0 derajat Lintang Utara/Lintang Selatan. Beberapa prajurit dengan pakaian dinas harian mereka menuju geladak, begitu pun taruna tanpa terkecuali.


Mereka diharuskan segera muncul ke geladak kapal, entah dalam kelompok-kelompok ataupun sendiri-sendiri. Mereka berbaris dan jalan jongkok serta merayap mengelilingi geladak kapal layaknya itik yang tengah dituntun pengembala untuk memasuki kandang.


Tradisi suci pembaptisan lintas garis khatulistiwa atau mandi khatulistiwa bagi pelaut-pelaut sejati dimulai! Adegan-adegan dan babak-babak pembuka dimulai. Siraman demi siraman air laut di tengah gelap malam di laut yang seolah tak bertepi karena pekat malam itu membasahi mereka dengan selang yang dialiri air laut.


Malam itu menjadi sangat berarti dan membanggakan bagi mereka yang mengikuti ritual mandi katulistiwa itu dalam operasi penyeberangan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Bima Suci menuju Indonesia dan Kartika Jala Krida (KJK) 2017.


Mandi Katulistiwa merupakan tradisi pelaut dunia jika melewati ekuator atau garis katulistiwa. Kegiatan itu merupakan yang perdana dilakukan di kapal tiang tinggi itu dan wajib diikuti semua personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) pengawak KRI Bima Suci yang belum pernah mengikuti ritual suci itu. Tidak peduli dia perwira, bintara, tamtama, taruna, bahkan sipil jika ada. 


Sebanyak enam perwira, 219 taruna AAL dan puluhan personel TNI AL pengawak kapal serta dua teknisi asal Spanyol, mengikuti ritual suci itu, sementara personel lain yang sudah mengikuti ritual itu sewaktu mengawaki KRI Dewaruci berbagi peran.


Nama kapal layar tiang tinggi itu KRI Dewaruci yang bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) sejak 1954, tidak bisa dikesampingkan saban kita membahas operasi pelayaran pendidikan dan muhibah ke luar negeri atau dalam negeri seperti ini.


KRI Dewaruci sudah melegenda di seluruh dunia, dan menjadi "ibu kandung" pelaut-pelaut TNI AL serta "ibu kandung" dari pimpinan TNI AL kemudian. KRI Dewaruci pula, kapal perang pertama Indonesia (ALRI, kini TNI AL) yang dibeli dalam keadaan baru sama sekali.


Jika ada pelaut yang sudah dibaptis di KRI Dewaruci, maka dia boleh membaptis orang-orang baru di kapal-kapal perang yang lain, tidak terkecuali KRI Bima Suci.


Untuk melaksanakan pembaptisan itu, ada peran-peran yang harus dilakoni para personel TNI AL pengawak kapal. Ada yang berperan sebagai Dewa Neptunus (dewa penguasa samudera raya), Dewi Amfirite (permaisuri dari Dewa Neptunus), Kapten Davy Jones (sosok antagonis yang menagih janji Dewa Neptunus untuk membersihkan samudera dari orang-orang darat yang masih kotor) dan para punggawa.


“Persiapkan diri kalian wahai para pelaut muda, tubuh dan jiwa kalian masih kotor dan harus disucikan,” kata personel TNI AL pengawak kapal, yang berperan sebagai punggawa sambil menyirami mereka dengan air laut.


Persiapan mandi katulistiwa ini berlangsung hingga pukul 23:00 waktu setempat dan akan dilanjutkan ritual mandi katulistiwa pada pukul 05:00 waktu setempat untuk mengikuti penyucian diri oleh Dewa Neptunus.


Pada proses persiapan tersebut, Kapten Davy Jones memeriksa persiapan para pelaut muda yang akan mengikuti ritual itu pada dini hari keesokan harinya


Tepat pukul 05:00 waktu setempat, tawa keras dan kadang-kadang menyeramkan para dewa-dewi serta punggawa mulai menghiasi pluit melengking dari pengeras suara di seluruh kapal. 


Peluit khas angkatan laut itu bentuknya kecil dengan kantong udara menggelembung di ujungnya. Ini bentuk yang sudah baku dan universal di seluruh angkatan laut negara manapun. Namun jangan salah, dari gelembung udara kecil itu bisa dihasilkan suara dengan frekuensi tinggi dan mampu mengalahkan gemuruh suara badai di laut.


Bunyi yang dihasilkan macam-macam dalam irama, lantunan, dan ketukan tertentu. Masing-masing bunyi memilik arti tersendiri, dan bisa menjadi perintah kerja atau perintah lain kepada personel-personel di dalam kapal, di antaranya untuk kepentingan protokoler dan upacara kemiliteran di atas kapal.


Demikianlah, satu-persatu taruna AAL dan personel pengawak KRI Bima Suci mulai berkumpul. Yang laki-laki bertelanjang dada dan yang perempuan memakai kaus lengan pendek. 


Dewa Neptunus bersabda: "Mandikan mereka!" 


Punggawa-punggawa bersorak kegirangan, inilah yang mereka tunggu-tunggu. Para calon warga samudera yang adalah manusia-manusia darat yang penuh kotor itu pasrah, berbaris dan berjalan jongkok serta merayap mengelilingi geladak KRI Bima Suci, sementara para punggawa Dewa Neptunus menyirami mereka dengan air laut.


Setelah mengelilingi geladak, mereka kemudian berkumpul dan bersujud menghadap ke buritan, sementara para punggawa Dewa Neptunus terus menyirami mereka dengan air laut. Dewa Neptunus duduk di singgasananya dengan penuh wibawa dan tombak trisula ada di tangannya. 


Dewa Neptunus didampingi Ratu Amfirite, Kapten Davy Jones dan para punggawa, memasuki geladak, dan duduk layaknya raja dan ratu kemudian para prajurit dan Taruna AAL tetap sujud layaknya seorang hamba memberi hormat kepada tuannya.


Pembaptisan di garis khatulistiwa pun dimulai, satu persatu nama mereka disebut dan kepala mereka dicelup ke dalam "air khusus" di dalam ember besar sebelum menghadap Dewa Neptunus untuk disucikan agar para pelaut muda yang mengikuti ritual itu suci dan diterima sebagai penghuni dasar lautan. 


"Air khusus" itu lambang penyucian diri, dibuat dari berbagai jenis campuran yang tidak dapat dibayangkan calon-calon manusia yang dibaptis. Jika ini dilakukan memakai drum besar, maka satu hal penting yang harus dilakukan sebelum mereka dicelup ke dalam "air khusus" itu adalah: lubang telinga dan lubang hidung harus ditutup kapas agar "air khusus" itu tidak masuk. Jangan tanya baunya... 


Pada prosesi pencelupan alias penyucian itu langsung dilanjutkan dengan ritual minum "jamu khusus" yang bermakna air kehidupan agar para pelaut muda yang mengikuti pembaptisan katulistiwa itu menjadi segar dan kuat.


Pembaptisan di garis katulistiwa ini berlangsung hingga pukul 08:00 waktu setempat, dan dilanjutkan dengan pembagian sertifikat oleh Komandan Satuan Tugas Penyeberangan KRI Bima Suci dan KJK 2017, Letnan Kolonel Pelaut Widyatmoko Baruno Aji.


“Selamat. Jiwa kalian telah disucikan oleh Dewa Neptunus, karena untuk mengarungi samudera jiwanya harus bersih,” kata Baruno Aji sebelum membagikan sertifikat kepada mereka yang mengikuti mandi katulistiwa itu. Sertifikat itu sangat sarat makna... ada nama mereka, dan juga nama baptis samudera, yang diambil dari nama rasi-rasi bintang, di antaranya Sabik (Rasi Sabik). 


Pada kesempatan itu, tepat pukul 13:00 waktu setempat juga dilakukan peran layar dengan mengembangkan sembilan layarnya.


“Peran layar kali ini untuk melatih para prajurit dan taruna AAL untuk mengembangkan layar di saat hujan,” kata Baruno Aji. Peran layar ini berlangsung hingga pukul 17:00 waktu setempat. 


"Peran layar... peran layar... peran layar...!" perintah itu jelas dikumandangkan dari anjungan. Semua warga samudera bahu-membahu mengembangkan layar dengan semangat baru, semangat manusia samudera baru. (*)

Oleh A037
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar