counter

Usulan Indonesia masuk dalam deklarasi Da Nang

Usulan Indonesia masuk dalam deklarasi Da Nang

Presiden Joko Widodo (kiri) bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) saat KTT APEC 2014 di Beijing, Tiongkok, Senin (10/11).

Da Nang, Vietnam (ANTARA News) - Sejumlah usulan Indonesia masuk ke dalam Deklarasi Da Nang sebagai hasil akhir dari KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) 2017.

"Ada beberapa hal yang kita perjuangan untuk masuk dokumen, antara lain adalah sebagai negara maritim kita ingin agar dampak negatif pencurian ikan ditangani secara baik, pembangunan konektivitas daerah-daerah terpencil, pemberdaaaan petani dan nelayan dan internasionalisasi UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah)," kata Wakil Menteri Luar Negeri, AM Fachir, di Da Nang, Vietnam, Sabtu.

Usulan-usulan itu juga disampaikan Presiden Joko Widodo baik dalam santap siang bersama 20 pemimpin anggota APEC, Sabtu (11/11) maupun dalam pertemuan APEC Business Advisory Council (ABAC) pada Jumat (10/11).

"UMKM dapat didukung sehingga dapat mempunya kapasitas, bisa juga mendapatkan akses kepada pasar internasional," kata Fachir, yang meneruskan bahwa para pemimpin anggota APEC sudah menyepakati satu dokumen Deklarasi Da Nang pada hari ini.

"Dokumen ini cukup solid mengapresiasi capaian-capaian APEC saat ini dan pada saat yang sama, melihat ke depan," ungkap Fachir.

Sejumlah hal untuk mempersiapkan hal-hal di masa depan itu antara lain adalah tetap memegang teguh prinsip regionalisme bebas dan terbuka, mendorong tercapainya Bogor Goals 2020 serta tetap mendukung sepenuhnya sistem perdagangan mulitaleral berdasarkan aturan WTO.

"Dan cukup bagus tahun ini menampilkan topik inklusif. Ke depan para pemimpin sepakat membentuk APEC Vision Group untuk membantu dalam menyusun visi baru setelah 2020 atau pasca APEC 2020," jelas Fachir.

Menurut Fachir, para anggota lain APEC juga mendukung kesepakatan dan ide yang diajukan.

"Pada era ekonomi digital seperti saat ini, tidak bisa terhindari dan dimaklumi juga di satu sisi memberikan dampak yang sifatnya positif tapi ada juga negatifnya, karena itu para pemimpin menyepakati bagaimana pengembangan kapasitas sumber daya manusia di dalam menghadapi dampak kemajuan teknologi informasi," ungkap Fachir.

Teknologi dan informasi itu terutama dimanfaatkan para petani dan nelayan agar dapat meningkatkan produktivitas terutama dalam konteks keamanan pangan.

Bahkan menurut Fachir, hal itu juga disetujui Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Donald Trump meski dia kerap melontarkan pernyataan mengenai perdagangan yang adil dan bukan perdagangan bebas, yang selama ini lazim dilakukan dalam perdagangan internasional.

"Faktanya mereka menyetujui itu bahwa dalam proses diskusi memang ada dinamika, itu normal makanya penyebutan dengan nuansa keadilan, transparan itu adalah bagian dari diskusi itu, kalau lihat ini ya pasti diterima hasilnya," kata Fachir.

Tema APEC 2017 adalah "Menciptakan Dinamika Baru, Membina Masa Depan Bersama" yang fokus membahas beberapa masalah, antara lain perekonomian berkesinambungan, integrasi regional, penguatan daya saing usaha mikro kecil dan menengah, perubahan iklim dan pertanian.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar