Manfaat pelaksanaan Festival Seni Budaya Alam Semesta di Bali

Manfaat pelaksanaan Festival Seni Budaya Alam Semesta di Bali

Gubernur Bali Main Teater Gubernur Bali Made Mangku Pastika (ketiga kiri) yang berperan sebagai dukun politik dalam pertunjukan teater di Pesta Kesenian Bali 2017 di Taman Budaya Denpasar, Kamis (6/7/2017). Teater tersebut bercerita tentang seorang dukun yang biasanya mengobati politikus namun diundang untuk mengobati anjing kesayangan seorang pengusaha kaya raya di Bali dan dipadukan dengan nuansa komedi. (ANTARA FOTO/Wira Suryantala)

 Denpasar (ANTARA News) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika menilai Festival Seni Budaya Alam Semesta yang diselenggarakan oleh "The International Nature Loving Association" (INLA) Bali dapat menyatukan perbedaan dalam persaudaraan, karena itu diharapkan pelaksanaannya dapat berkelanjutan.

"Saya memberikan apresiasi kepada INLA Bali yang memprakarsai festival ini. Festival tidak hanya bermakna sebagai wahana ekspresi para seniman, tetapi secara lebih luas festival ini menjadi wahana membangun hubungan `menyama braya` (persaudaraan) antarseniman dan antarkomponen INLA Bali, maupun INLA di seluruh Tanah Air," katanya saat membuka festival itu di Taman Budaya, Denpasar, Minggu malam pekan ini.

Menurut dia, seni budaya merupakan unsur universal yang dapat mempersatukan perbedaan seluruh komponen masyarakat.

Seni budaya juga dapat mempersatukan kepentingan yang dinamis dalam masyarakat, menjadi sebuah harmoni dalam sebuah kehidupan sosial.

"Sesuai dengan nama kegiatannya, festival ini membawa pesan moral, nilai-nilai kehidupan dan budaya semesta. Kehadiran para seniman dari berbagai daerah dengan kreativitas yang tinggi, menunjukkan bahwa potensi seni budaya dapat digali dan diarahkan pada pendekatan semesta," ucapnya.

Festival tersebut, lanjut dia, menunjukkan bahwa seni budaya yang tumbuh dan berkembang di Bali adalah bermacam-ragam dan dapat dimainkan oleh seluruh komponen.

"Di Bali ada berbagai suku agama, ras dan golongan. Di Bali juga tumbuh bermacam ragam seni budaya yang semuanya adiluhung sebagai pemersatu masyarakat dan membawa nama harum Bali ke dunia internasional," ujar Pastika.

Dia pun berharap, festival ini dapat diselenggarakan secara berkelanjutan dengan berbagai kreativitas tambahan lainnya serta melibatkan lebih banyak komponen masyarakat karena festival yang digelar sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yaitu mencintai sesama, mencintai lingkungan dan mensyukuri keagungan Yang Maha Kuasa

"Hal ini menunjukkan bahwa Tri Hita Karana adalah filosofi universal yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan manusia," katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Hery Sugiarto mengatakan Festival Seni Budaya Alam Semesta sebagai media untuk terus menyuarakan pesan moral dan nilai-nilai harmoni kehidupan kepada semua masyarakat tanpa memandang perbedaan.

Festival semacam ini telah digelar di sejumlah negara seperti Beijing, Hongkong, Taiwan, Korea dan Jakarta, INLA turut berpartisipasi ambil bagian dalam ajang tersebut.

"INLA mengajak masyarakat agar belajar saling mengasihi, mempelajari budi pekerti, sampai menghormati orang tua, guru dan memiliki respek baik terhadap diri sendiri maupun dengan orang lain," katanya.

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar