Wiranto: pendatang yang disandera dikembalikan ke asalnya

Wiranto: pendatang yang disandera dikembalikan ke asalnya

Menko Polhukam Wiranto (ANTARA FOTO/Adwit B Pramono)

Ada usulan mengembalikan para pendatang. Yang datang di daerah itu untuk pendulang emas. Sebab, kalau nanti kita biarkan ke derah itu, pasti akan terulang lagi, terulang lagi, dan terulang lagi. Karena daerah itu memang sangat terisolasi."
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto mengatakan, warga pendatang yang sempat disandera di Desa Banti dan Desa Kimbely, Timika, Papua akan dikembalikan ke daerah asal agar peristiwa penyanderaan oleh kelompok kriminal bersenjata tidak terulang kembali.

"Ada usulan mengembalikan para pendatang. Yang datang di daerah itu untuk pendulang emas. Sebab, kalau nanti kita biarkan ke derah itu, pasti akan terulang lagi, terulang lagi, dan terulang lagi. Karena daerah itu memang sangat terisolasi," ucap Wiranto kepada wartawan di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin.

Dia menuturkan, semuanya akan dipulangkan ke daerah asal. Bukan hanya beda daerah, tetapi suku yang bukan asli di Tembagapura.

"Kita berusaha mengembalikan mereka. Yang berasal dari Jawa kita kembalikan ke Jawa, yang berasal dari suku lain di Papua kita kembalikan ke tempat asalnya," kata Wiranto kepada wartawan usai rapat khusus mengenai kondisi Papua.

Wiranto menegaskan, nantinya yang boleh bertempat tinggal di sana adalah suku Amungme karena sudah dikenal dan tidak akan diganggu kelompok bersenjata tersebut.

Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan, operasi pengejaran kelompok kriminal bersenjata akan tetap dilakukan tim gabungan TNI/Polri.

"Mereka memang kriminal, mereka mengancam rakyat, memalak rakyat, menyandera rakyat pakai senjata. Tapi di benaknya juga ada instrumen separatisme," ujar purnawirawan Jenderal bintang empat ini.

Ia pun mengapresiasi atas kerja keras prajurit TNI dan personel Polri yang berhasil membebaskan warga yang dalam penyanderaan di dua desa, di Timika.

"Perlu kita berikan apresiasi kepada prajurit yang telah mampu melakukan pembebasan para sandera tanpa korban," tutur Wiranto.


Penghargaan

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memberikan penghargaan kepada 63 prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Pembebasan Sandera atas keberhasilannya membebaskan 347 warga masyarakat yang disandera oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua.

Upacara pemberian penghargaan kepada 63 prajurit TNI tersebut dilaksanakan di depan bekas Pos Kelompok Kriminal Bersenjata, Desa Utikini, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, Minggu (19/11).

Penghargaan yang diberikan kepada prajurit TNI berupa prioritas khusus sekolah bagi 5 (lima) orang perwira dan 58 prajurit mendapat Kenaikan Pangkat Luar Biasa yaitu naik satu tingkat dari pangkat lama, penghargaan ini ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/920/XI/2017.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa prajurit yang tergabung dalam Satgas Pembebasan Sandera di Papua pantas diberikan penghargaan, karena mereka telah melaksanakan tugas dengan baik.

"Karena kebanggaan, atas nama seluruh prajurit TNI saat ini kami memberikan penghargaan Kenaikan Pangkat Luar Biasa. Saya berikan penghargaan karena prajurit TNI telah melakukan operasi ini sangat teliti dengan pengamatan yang intensif, tidak mengenal lelah setiap hari, setiap saat, sehingga 347 warga masyarakat yang disandera bisa selamat semuanya tanpa luka sedikitpun," kata Panglima TNI.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menjelaskan bahwa Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) 58 orang prajurit dan 5 (lima) perwira diberikan pendidikan secara khusus mendahului rekan-rekan satu angkatannya.

"Inilah contoh tauladan bagi prajurit yang mengutamakan tugas hanya untuk kepentingan negara," ucapnya.

Namun, lima perwira menolaknya dan mendapatkan penghargaan berupa pendidikan khusus.

"Lima perwira diwakili komandan upacara menyampaikan, keberhasilan milik anak buah, kegagalan adalah tanggung jawab perwira. Sehingga yang pantas naik pangkat adalah anggotanya. Secara halus mereka menolak kenaikan pangkat," ungkap Gatot.

Operasi pembebasan sandera di Papua ini merupakan Satgas Gabungan TNI-Polri. Sedangkan organisasi Satgas Operasi Pembebasan Sandera dari TNI diambil dari prajurit-prajurit yang terbaik, berpengalaman dan terlatih yaitu dari Kopassus, Pleton Pengintai Tempur (Tontaipur) Kostrad, Batalyon 751/Raider Sentani dan Batalyon 754/ENK Kodam XVII Cenderawasih.

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar