Polda Jatim lakukan Sispamkota antisipasi Pilkada ricuh

Polda Jatim lakukan Sispamkota antisipasi Pilkada ricuh

Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Machfud Arifin (ANTARA FOTO/Seno)

Surabaya (ANTARA News) - Kepolisian Daerah Jawa Timur melakukan peragaan sistem pengamanan kota (Sispamkota) di Kenjeran Park Surabaya, Kamis, guna mengantisipasi terjadinya kericuhan saat pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di wilayah itu pada 2018 mendatang.

Kepala Biro Operasi Polda Jatim, Kombes Pol Heri Sitompul sebelum simulasi mengatakan kegiatan simulasi pengamanan Pilkada melibatkan sekitar 800 personel yang seluruhnya dari Polda Jatim seperti dari Sabhara dan Brimob

"Kegiatan yang pertama kali dilakukan di tahun 2017 ini merupakan langkah antisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan seperti halnya kericuhan saat Pilkada," katanya.

Setelah simulasi pertama ini, pihaknya berencana akan kembali melakukan hal serupa pada awal 2018 mendatang yang akan melibatkan personel lebih banyak dari seluruh jajaran Polda Jatim dan dilakukan di beberapa obyek vital Jatim.

Pada simulasi itu dilakukan sejumlah skenario di antaranya suasana chaos di Surabaya aksi penyanderaan tim sukses oleh kelompok radikal terjadi, aksi demo di Kantor Pemilihan Umum (KPU) dan kekacauan saat pengiriman logistik pilkada.

Kapolda Jatim Irjen Pol Machfud Arifin mengatakan simulasi juga akan melibatkan para Kapolres. Simulasi itu juga menjadi bagian upaya pengecekan kesiapan personel dan peralatan dalam mengamankan Pilkada sampai pada tingkatan yang landai, aman untuk sampai kepada tingkat yang memang butuh penanganan khusus.

"Brimob dan sebagainya sudah kita latih. Dari skenario kecil yang sudah kita buat nanti di tahun 2018 awal itu akan kita latih dengan pelatihan melibatkan seluruh `stakeholder` yang memang punya kepentingan dalam pengamanan Pilkada. TNI akan bergabung dengan Polri. Para tokoh agama mungkin bisa dikolaborasikan menghadapi unjuk rasa tidak mesti harus Brimob turun," tuturnya.

Pelibatan tokoh agama, kata dia, karena dalam berapa tahun terakhir dengan kehadiran para kiai, para tokoh agama, para ulama bisa bisa meredam emosi masyarakat sehingga tidak perlu lagi polisi angkat senjata.

"Kalau polisi nembak-nembak lagi kan tidak harus dilakukan. Dengan imbauan untuk tidak anarkis ya tetap akan kita lakukan lebih dulu," kata dia.

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar