Wiranto tawarkan kerjasama "counter terrorism" ke Myanmar

Wiranto tawarkan kerjasama "counter terrorism" ke Myanmar

Menkopolhukam Wiranto (ANTARA /Puspa Perwitasari)

Ancaman terorisme dan radikalisme terjadi dimana-mana, di semua negara, termasuk Indonesia dan Myanmar."
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Wiranto menawarkan kerja sama penanganan terorisme atau "counter terrorism" kepada pemerintah Myanmar.

Menko Polhukam dakam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Selasa, menyatakan, kedatangannya ke Myanmar tersebut diutus langsung oleh Presiden Joko Widodo khusus untuk membahas satu hal, yakni perlunya peningkatan kerja sama "counter terrorism` mengingat ancaman terorisme dan radikalisme harus ditangani sejak dini.

"Ancaman terorisme dan radikalisme terjadi dimana-mana, di semua negara, termasuk Indonesia dan Myanmar," kata Menko Polhukam.

Ia mengatakan, ancaman terorisme sifatnya lintas batas, sehingga diperlukan kerja sama regional dan internasional untuk menanganinya. Indonesia sendiri memiliki pengalaman yang dapat dibagi dalam pemberantasan radikalisme dan terorisme, yaitu melalui "soft power` dan "hard power".

"Kemampuan deteksi atau pencegahan sangat penting artinya untuk melumpuhkan kemungkinan serangan teror," kata Wiranto.

"Sekali lagi, saya hadir ke sini untuk berdiskusi bagaimana kita dapat bekerja sama untuk menangani terorisme," katanya.

Dalam kunjungannya, Menko Polhukam Wiranto bertemu dengan Ketua National Security Adviser, Ambassador U Thaung Tun, Menteri Dalam Negeri Myanmar, Letnan Jenderal Kyaw Swe, dan Menteri Pertahanan Myanmar, Letnan Jenderal Win.

"Bagi Indonesia, Myanmar adalah bagian dari keluarga karena sama-sama memiliki sejarah yang panjang melawan penjajahan asing," ujar Menko Polhukam Wiranto yang melakukan kunjungan ke Naypydaw, Myanmar.

Ia mengatakan, sebagai sesama anggota ASEAN, Myanmar dan Indonesia terus bekerja sama dengan erat dalam menjaga sentralitas dan kesatuan ASEAN.

Wiranto menambahkan, Indonesia mengikuti dengan seksama dan memahami kompleksitas situasi di Rakhine State. Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk terus memberikan bantuan kemanusiaan dengan tetap menjunjung tinggi kedaulatan Myanmar.

"Sebagai seorang purnawirawan jenderal yang pernah menjadi panglima Tentara Nasional Indonesia, kita memiliki pemahaman yang sama atas arti penting persatuan bangsa dan negara serta harga mati kedaulatan dan integritas wilayah negara, dan peran militer di dalamnya," kata Wiranto.

Sementara itu, pemerintah Myanmar menyambut baik usulan dan tawaran Indonesia mengenai kerja sama di bidang penanganan radikalisme dan counter terrorism.

Meskipun demikian, Myanmar akan lebih menekankan pentingnya kerja sama bilateral dalam penanganan radikalisme dan terorisme, khususnya dengan Indonesia yang dianggap sebagai benar-benar sahabat atau "the true friend of Myanmar". 

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar