Jalan kaki tak bermanfaat bila kualitas udara buruk

Jalan kaki tak bermanfaat bila kualitas udara buruk

Ilustrasi. Berjalan kaki minimal satu jam sehari dapat mengurangi risiko kanker payudara pada perempuan pasca-menopause. (wikipedia.org)

Jakarta (ANTARA News) - Rajin berjalan kaki memang bagus untuk kesehatan, salah satunya untuk jantung. Berbagai studi bahkan menunjukkan bahwa berjalan kaki bisa memperpanjang harapan hidup seseorang.

Namun, kalau kegiatan ini dilakukan di jalan yang penuh polusi? sama sekali tak ada manfaatnya bagi kesehatan Anda, ungkap sebuah studi baru dalam jurnal Lancet.

Dalam studi itu, tim peneliti merekrut 119 orang berusia di atas 60 tahun. 40 orang di antaranya sehat; 40 orang lainnya menderita penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), penyakit paru inflamasi; dan 39 orang lainnya menderita penyakit jantung iskemik, akibat penyempitan arteri.

Peneliti lalu meminta beberapa dari mereka berjalan kaki selama dua jam per hari di sepanjang London's Oxford Street, sebuah jalan raya di pusat kota yang banyak dilalui oleh bus dan mobil. Sebagian lagi diminta menghabiskan waktu berjalan kaki melewati bagian yang sepi dari Hyde Park.

Tiga hingga delapan minggu kemudian, mereka bertukar rute.

Hasilnya, mereka yang berjalan kaki di Hyde Park, mengalami peningkatan besar dalam kapasitas paru-paru dan kekakuan arterial mereka.

Tapi, setelah mereka berjalan di sepanjang Oxford Street - dan menghirup sejumlah polutan di udara di sana, hanya sedikit perbaikan dalam kapasitas paru-paru.

Bahkan, mereka yang menderita kekakuan arteri, kondisinya memburuk. Sejumlah masalah pernapasan juga mereka alami- termasuk batuk dan sesak napas.

Orang dengan penyakit jantung mengalami kekakuan arteri yang lebih parah setelah berjalan melalui lingkungan perkotaan, kecuali jika mereka memakai obat kardiovaskular.

"Anda harus menghindari daerah yang tercemar untuk melakukan olahraga apapun, khususnya berjalan kaki," kata pemimpin peneliti Kian Fan Chung, seorang profesor kedokteran di National Heart and Lung Institute Imperial College London, seperti dilansir laman Time.


Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar