Qatar peringatkan akibat berbahaya keputusan AS soal Jerusalem

Qatar peringatkan akibat berbahaya keputusan AS soal Jerusalem

Bendera Qatar. (Flickr/Juanedc)

Doha, Qatar (ANTARA News) - Qatar memperingatkan akibat berbahaya dari keputusan Amerika Serikat (AS) mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel menurut siaran Kantor Berita Qatar (QNA), yang dikelola pemerintah.

Dalam pertemuan rutin Kabinet pada Rabu malam waktu setempat, Perdana Menteri Qatar Sheikh Abdullah bin Nasser bin Khalifa Ath-Thani mengatakan tindakan AS itu bisa bertentangan dengan legitimasi dan hukum internasional, selain semua upaya perdamaian yang dilandasi penyelesaian dua-negara.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengumumkan mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memindahkan Kedutaan Besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem.

Sheikh Abdullah mengatakan Kabinet Qatar menyeru Pemerintah AS untuk tidak menjalankan langkahnya mengenai Jerusalem, dan memberikan tekanan kepada Pemerintah Israel.

Kabinet Qatar juga kembali menegaskan upaya Qatar untuk mendukung hak rakyat Palestina untuk mendirikan negara merdeka dengan Jerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Qatar akan mendukung rakyat Palestina untuk melindungi hak dan legitimasi nasional mereka.

Pada Selasa, Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Ath-Thani menerima pesan tertulis dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang memberi penjelasan mengenai perkembangan di wilayah Palestina sebelum keputusan AS mengenai Jerusalem.

Sementara itu Presiden Lebanon Michel Aoun pada Rabu mengatakan keputusan Presiden AS Donald Trump mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel berbahaya dan mencederai kredibilitas AS sebagai penaja proses perdamaian.

Aoun, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh Kantor Media Presiden, mengatakan, "Keputusan ini membalikkan proses perdamaian antara Palestina dan Israel selama beberapa dasawarsa dan membunuh setiap upaya yang telah dilancarkan untuk membawa sudut pandangan lebih dekat."

Ia memperingatkan keputusan AS itu dapat mengundang reaksi yang mengancam kestabilan kawasan dan barangkali seluruh dunia.

Aoun menyeru negara Arab mengambil "sikap bersatu untuk mengembalikan identitas Arab di Jerusalem dan memulihkan resolusi internasional serta inisiatif perdamaian Arab sebagai satu-satunya cara mewujudkan perdamaian yang adil dan menyeluruh yang memulihkan hak kepemilikan mereka".

Pada gilirannya, Perdana Menteri Lebanon Saad Al-Hariri pada Rabu menekankan Lebanon "menolak Judaisasi Jerusalem dan keputusan Amerika".

Saad mengatakan Lebanon akan melakukan tindakan politik dan diplomatik dengan negara Arab dan Islam serta masyarakat internasional untuk menolak keputusan bias Amerika, demikian menurut siaran kantor berita Xinhua. (Uu.C003)


Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar