Harga kebutuhan pokok di Gunung Kidul naik usai dihantam Cempaka

Harga kebutuhan pokok di Gunung Kidul naik usai dihantam Cempaka

Dokumentasi Harga Sembako Mulai Naik. Pedagang melayani pembeli kebutuhan pokok di Pasar Pagi, Tegal, Jateng, Minggu (8/6/2014). Menjelang Ramadhan harga sembako di beberapa pasar tradisional di Tegal, merangkak naik berkisar 5 - 10 persen. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/ss/Spt/14)

Gunung Kidul (ANTARA News) - Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok di Pasar Argosari, Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, naik akibat cuaca buruk yang terjadi pada akhir November.

Salah seorang pedagang beras di Pasar Argosari Tukino di Gunung Kidul, Kamis, mengatakan terjadi kenaikan beras sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram sejak seminggu terakhir.

"Kenaikan sejak seminggu terakhir. Semuanya naik dari termurah sampai termahal, misalnya untuk kualitas medium dari harga Rp8.000 naik menjadi Rp 8.500," katanya.

Dia mengaku dari informasi yang diperoleh sesama pedagang kenaikan ini karena cuaca buruk yang terjadi akhir November lalu. Sehingga pasokan berkurang, dan diperkirakan harga akan terus naik.

"Informasinya akan terus naik, semoga informasi ini tidak benar. Bisa repot semua dari pedagang hingga pembeli," ucapnya.

Tukino berharap pemerintah segera mengantisipasi, apalagi akhir tahun biasanya konsumsi beras akan terus meningkat. "Semoga bisa diatasi sehingga beras tidak naik," katanya.

Pedagang sembako lainnya, Narsih mengatakan kenaikan kebutuhan pokok lainnya, seperti telur, minyak dan cabai merah keriting. Harga telur naik Rp2.000 dari harga Rp22.000 naik menjadi Rp24.000, minyak satu kardusnya hanya naik Rp3.000.

"Kenaikan tertinggi dialami cabai merah keriting dari awalnya hanya Rp20.000 per kilogram menjadi Rp35.000 per kilogram, yang aneh cabai rawit malah murah hanya Rp20.000 perkilogram, paahal selama ini harga cabai rawit jauh diatas cabai keriting," katanya.

Ia mengatakan, dengan kenaikan biasanya pembeli akan mengurangi belanja. "Kalau pembeli sedikit pedagang yang rugi juga, tidak hanya masyarakat," katanya.

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar