Depo LRT Bekasi pusat pergerakan manusia ke Jakarta

Depo LRT Bekasi pusat pergerakan manusia ke Jakarta

Proyek LRT Jabodebek. (ANTARA/Yulius Satria Wijaya)

Bekasi (ANTARA News) - Dewan Transportasi Kota Bekasi, Jawa Barat, memproyeksikan kehadiran Depo Light Rail Transit (LRT) Bekasi Timur di Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi akan menjadi sentral pergerakan masyarakat menuju Jakarta.

"Saat ini pergerakan kendaraan pribadi dan umum yang mengarah ke Jakarta masih tersentral Jalan Ahmad Yani, Bekasi Barat, yang merupakan gerbang masuk menuju Jakarta via Tol Jakarta-Cikampek," kata Ketua DTK Bekasi Harun Al Rasyid di Bekasi, Kamis.

Pihaknya mencatat setiap harinya pergerakan kendaraan pribadi yang melintasi Jalan Ahmad Yani mencapai 31.000 unit.

Pihaknya mengategorikan situasi itu sebagai kawasan padat kendaraan, khususnya pada jam sibuk kerja masyarakat.

Harun memprediksi, pada tahun 2020 jumlah penduduk Kota Bekasi dari saat ini berjumlah 2,6 juta jiwa akan bertambah menjadi 3 juta jiwa.

"Dengan jumlah penduduk sebesar itu tanpa langkah strategis dari pemerintah dan pemangku kepentingan Kota Bekasi akan semakin padat," katanya.

Menurut dia, proporsi penggunaan kendaraan di Jabodetabek didominasi oleh pengendara motor yakni sekitar 7?5 persen, sedangkan 23 persen lainnya memilih kendaraan pribadi dan 2 persen kendaraan umum.

"Infrastruktur angkutan massal masih sangat terbatas, baik kapasitas maupun ketersediannya. Pengadaan bus dan kereta belum cukup memenuhi kebutuhan publik," katanya.

Karena itu Harun memproyeksikan, pembangunan kereta api ringan atau light rail transit (LRT) yang ada di wilayah Jabodebek akan mengubah peradaban masyarakat Bekasi.

"Apalagi pemerintah akan membangun depo atau garasi kereta LRT Bekasi Timur, sehingga konsentrasi warga yang menuju Jakarta akan terpusat di sana," katanya.

Masyarakat yang selama ini kehilangan banyak waktu di jalan karena kemacetan, kata dia, akan bisa memprediksi waktu perjalanan karena dengan adanya LRT.

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar