Sudan Selatan dalam situasi genting, kata pejabat PBB

Sudan Selatan dalam situasi genting, kata pejabat PBB

Perempuan Sudan selatan dan anak-anak mengantre untuk menerima makanan di perkemahan perlindungan sipil PBB (POC) yang menerima sekitar 30.000 orang pengungsi selama pertempuran baru-baru ini di Juba, Sudan Selatan (25/7/2016) (REUTERS / Adriane Ohanesian)

PBB, New York (ANTARA News) - Wakil Sekretaris PBB Urusan Operasi Pemelihara Perdamaian Jean-Pierre Lacroix pada Kamis (7/12) memperingatkan mengenai "situasi keamanan yang genting" di Sudan Selatan dan meminta Dewan Keamanan untuk tetap waspada.

"Kami tetap sangat prihatin mengenai situasi keamanan yang genting yang terjadi di Sudan Selatan. Saat musim kering membayang, kita menghadapi kemungkinan bahwa konflik militer akan meningkat, serta perang antar-masyarakat," kata Lacroix kepada Dewan Keamanan.

"Kita tak bisa terus berpangku tangan dan menyaksikan. Sekarang, lebih dari sebelumnya, saya mendesak Dewan ini untuk tetap waspada dan melancarkan lebih banyak upaya untuk mengutuk dan menghentikan kerusuhan, melindungi warga sipil dan secara mendesak memfasilitasi penyelesaian konflik," kata Lacroix.

Krisis ekonomi juga terus mengakibatkan dampak serius pada lingkungan keamanan, katanya.

Ia mendesak Dewan Keamanan agar berbuat lebih banyak guna mengupayakan penyelesaian politik bagi konflik tersebut, demikian laporan Xinhua.

"Pertempuran tak bisa beriringan dengan upaya untuk merancang perdamaian yang langgeng. Keduanya tidak cocok," katanya.

"Saya mendesak Dewan untuk melipat-gandakan upayanya guna mendukung wilayah tersebut dan proses politik yang berlangsung."

Ia meminta Dewan keamanan menggunakan semua sarana yang berarti untuk menuntut perubahan jalur dari para pemimpin Sudan Selatan dan semua pihak dalam konflik itu.

Tak lama setelah kemerdekaan dari dari Sudan pada 2011, Sudan Selatan terjerumus ke dalam perang saudara. Sebanyak 300.000 orang diperkirakan telah tewas sejak penghujung 2013. Lebih dari 1,5 juta orang telah menyelamatkan diri ke negara tetangga, lebih banyak orang lagi menjadi pengungsi di dalam negeri mereka.

(Uu.C003)

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar