DIY gencarkan pemantauan epidemiologi cegah difteri

DIY gencarkan pemantauan epidemiologi cegah difteri

Jurnalis merekam suasana area ruang isolasi yang digunakan untuk merawat pelajar suspect difteri di RSUP Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (12/12/2017). Hingga saat ini seorang pasien berstatus pelajar berusia 16 tahun asal Bantul yang dinyatakan suspect penyakit difteri diisolasi di RSUP Dr Sardjito dan tim dokter masih melakukan uji lab tahap selanjutnya ke laboratorium rujukan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Yogyakarta (ANTARA News) - Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan akan menggencarkan pemantauan epidemiologi di lima kabupaten/kota untuk mencegah munculnya kasus penyakit difteri.

"Semua kabupaten/kota kami minta baik dinas kesehatannya maupun puskesmas agar melakukan pemantauan epidemiologi," kata Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setiyaningastutie di Yogyakarta, Rabu.

Ia mengatakan, pemantauan epidemiologi akan lebih ditekankan, khususnya untuk tiga kabupaten yang sebelumnya ditemukan pasien "suspect" difteri, yakni Bantul, Sleman dan Kulon Progo.

"Untuk daerah Bantul, Kulon Progo, dan Sleman pemantauan epidemiologi lebih kami kuatkan lagi," kata dia.

Pembajun mengatakan, hingga saat ini belum ada kasus positif difteri di DIY. Dari lima orang asal Bantul, Sleman, dan Kulon Progo yang sebelumnya dinyatakan "suspect" difteri, empat orang di antaranya telah dinyatakan negatif dan satu orang masih menunggu hasil uji laboratorium dan dirawat di RSUP Dr Sardjito.

"Sampai hari ini kita memang bisa mengatakan bahwa `suspect-suspect` yang ada ini hasilnya negatif," kata dia.

Selain pemantauan epidemiologi, menurut dia, pihaknya juga akan memastikan kesiapan seluruh rumah sakit di DIY untuk penanganan kasus difteri. "Ketersediaan antidifteri serum juga ada. Kami ada sepuluh kotak, mudah-mudahan tidak dipakai," kata dia.

Pembajun optimistis DIY terhindar dari kasus difteri karena cakupan imunisasi di DIY telah mencapai di atas 95 persen.

Menurut Pembajun, pada umumnya orang yang selama ini dinyatakan terjangkit difteri, 65 persen di antaranya karena tidak pernah memiliki riwayat imunisasi sejak kecil.

"Jadi rata-rata karena imunisasinya tidak lengkap, sehingga kami mengimbau agar masyarakat memanfaatkan fasilitas imunisasi yang telah disediakan pemerintah," kata dia.

Selain itu, Pembajun berharap untuk mencegah timbulnya penyakit itu, masyarakat DIY tetap menggalakkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di lingkungan masing-masing.

"Perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat harus tetap menjadi prioritas," kata dia.

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar