Kemenko Maritim dukung konservasi terumbu karang Teluk Pemuteran

Kemenko Maritim dukung konservasi terumbu karang Teluk Pemuteran

Arsip: Wisata Bawah Air Natuna Keindahan terumbu karang di perairan Teluk Buton, Natuna, Kepulauan Riau, Selasa (1/8/2017). (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman mendukung upaya konservasi terumbu karang di Teluk Pemuteran melalui festival berbasiskan masyarakat, seni, dan budaya bertajuk "Pemuteran Bay Festival 2017".

Festival yang digelar 13-16 Desember 2017 itu bertujuan untuk menanamkan semangat kebersamaan dan konservasi lingkungan laut, salah satunya terkait penanaman dan konservasi terumbu karang.

Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kemenko Kemaritiman Arif Havas Oegroseno dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu, mengatakan festival diharapkan dapat mendorong peran tokoh-tokoh muda mengatasi kerusakan terumbu karang.

"Rehabilitasi terumbu karang Teluk Pemuteran oleh tokoh-tokoh muda membuktikan bahwa Indonesia, melalui generasi mudanya, mampu menjadi ujung tombak penanganan kerusakan lingkungan laut.

Sudah saatnya, Pemuteran-Pemuteran baru dikembangkan di berbagai penjuru laut Indonesia agar kerusakan 30 persen terumbu karang kita diatasi," ungkapnya.

Havas menuturkan, kehebatan para tokoh muda Pemuteran perlu diproyeksikan ke dunia internasional sehingga Indonesia juga dapat dikenal dengan terumbu karangnya.

"Indonesia harusnya tidak hanya dikenal tegas menenggelamkan kapal pencuri ikan, tetapi juga harus dikenal sebagai bangsa ilmuwan terumbu karang," tuturnya.

Festival yang mengangkat tema "Tanjung Budaya dalam Pemuteran Gerokgak Singaraja" itu digelar tak lepas dari peran tokoh-tokoh muda di Indonesia yang peduli akan penanganan kerusakan laut.

"Pemuteran Bay Festival 2017" sendiri merupakan tahun pertama festival yang diselenggarakan di Desa Pemuteran dengan mengangkat nama Pemuteran melalui penggalian berbagai potensi keindahan alam dan budaya desa tersebut. Tadinya, dua tahun sebelumnya, festival terssbut dikenal dengan Buleleng Bali Dive Festival (BBDF).

Koordinator Nasional Biorock Indonesia yang juga merupakan salah satu tokoh muda, Prawita Tasya Karissa, mengungkapkan, "Pemuteran Bay Festival 2017" juga merupakan salah satu sosialisasi atau kampanye agar masyarakat dan para pemangku kepentingan terus mendukung upaya rehabilitasi terumbu karang.

"Rehabilitasi terumbu karang sering salah dipahami sebagai kegiatan transplantasi, padahal rehabilitasi memerlukan perencanaan, perawatan, dan dukungan dari para pemangku kepentingan, terutama masyarakat," katanya.

Tasya menambahkan, banyak kementerian/lembaga terkait memiliki program rehabilitasi terumbu karang, namun belum bersinergi dengan baik.

"Harapan kami selanjutnya Kemenko Maritim mampu memimpin dan mengoordinasikan upaya-upaya untuk rehabilitasi dan pelestarian terumbu karang di Indonesia," ungkapnya.

Festival itu menampilkan maskot seni sebagai akar konservasi, yakni Garuda, yang ditampilkan dalam bentuk dua karya patung dengan kombinasi ulatan besi yang ditenggelamkan sebagai maskot konservasi struktur terumbu karang dengan teknologi "Biorock".

Hingga saat ini ada lebih dari 77 struktur terumbu karang yang ada di bawah laut Pemuteran.

Pemilihan maskot Garuda, sesuai dengan kepercayaan masyarakat Hindu Bali yang dipercaya sebagai kendaraan suci Dewa Wisnu sebagai Dewa Laut (baruna) serta sebagai lambang negara.

Proses instalasi garuda ini melibatkan sekitar kurang lebih dari 50 penyelam dan masyarakat, yang salah satunya adalah vokalis band ternama, yaitu Akhadi Wira Satriaji atau yang lebih dikenal dengan sebagai Kaka Slank.

Sebagai salah satu aktivis konservasi kelautan, Kaka menilai upaya konservasi terumbu karang patut dan harus dilakukan, terutama oleh generasi muda.

"Selama ada kemauan, pasti ada jalan, bahkan lokasi terumbu karang yang hancur pun bisa diperbaiki dan menjadi sesuatu yang unik dan menghasilkan pendapatan bagi masyarakatnya. Dan Desa Pemuteran sudah membuktikannya," tuturnya.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar