Dinkes Bekasi terima pasokan 143.265 vaksin difteri

Dinkes Bekasi terima pasokan 143.265 vaksin difteri

Dokumentasi Petugas Dinas Kesehatan Pemprov Banten memasukan vaksin DPT (Difteri, Tetanus, dan Pertusis) anti penyakit difteri ke jarum suntik di Posyandu Cempaka, Kaujon, Serang, Banten, Senin (11/12/2017). Kementrian Kesehatan menyatakan Provinsi Banten sebagai salah satu daerah KLB (Kejadian Luar Biasa) wabah difteri setelah didapati 68 penderita penyakit sangat menular tersebut dan untuk mengatasinya mulai tanggal 11 Desember dilakukan vaksinasi DPT secara serentak di seluruh Posyandu dan Puskesmas. (ANTARA FOTO/Asep/Fathulrahman)

Kiriman vaksin ini kita terima pekan lalu untuk kebutuhan vaksinasi ulang anak menyusul dikeluarkannya status kejadian luar biasa (KLB) difteri di Jawa Barat."
Bekasi (ANTARA News) - Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Jawa Barat, menerima pasokan 143.265 vaksin dari Kementerian Kesehatan dalam rangka memutus mata rantai penyebaran penyakit difteri pada kalangan anak di wilayah setempat.

"Kiriman vaksin ini kita terima pekan lalu untuk kebutuhan vaksinasi ulang anak menyusul dikeluarkannya status kejadian luar biasa (KLB) difteri di Jawa Barat," kata Kepala Dinas KEsehatan Kota Bekasi Kusnanto di Bekasi, Minggu.

Dia merinci, kebutuhan vaksin itu diperuntukan bagi kalangan anak usia kurang dari 1-5 tahun sebanyak 67.123 vaksin, anak di usia 5-7 tahun sebanyak 13.301 vaksin dan anak di atas 7 tahun sebanyak 74.841 vaksin.

"Totalnya sekitar 143.265 vaksin yang kita terima dari Kemenkes kemarin. Kegiatan ini sebenarnya sudah kita gelar sejak 11 Desember 2017," katanya.

Kusnanto mengatakan, jenis vaksin yang diberikan di antaranya Difteri-Pertusis-Tetanus (DPT), Vaksin Difteri Tetanus (DT), Vaksin Tetanus-difeteri (Td).

"Pelaksanaan vaksin Difteri fase I sampai Januari 2018, fase II hingga Februari 2018 dan fase III adalah Juni 2018," katanya.

Kusnanto mengungkapkan, program vaksinasi tersebut saat ini kurang berjalan lancar menyusul masih adanya resistensi sebagian kalangan masyarakat terhadap vaksin.

"Saat ini masih ada kalangan masyarakat yang belum memahami pentingnya vaksin, biasanya kaitan dengan perdebatan halal atau haram, stigma tidak pentingnya vaksin bagi pertumbuhan anak dan lainnya," katanya.

Kusnanto menambahkan, sepanjang Januari hingga Desember 2017 terdapat sedikitnya 17 pasien terduga difteri yang ditangani pihaknya.

"Pada Januari-November ada sekitar 12 suspek difteri, sebanyak empat di antaranya positif disfteri namun sudah pulih dan sisanya negatif. Sedangkan pada Desember terdapat penambahan sekitar lima pasien suspek difteri yang sampai saat ini masih menunggu hasil cek laboratorium," katanya.

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar