BMKG: waspada hujan lebat jelang Natal-Tahun Baru

BMKG: waspada hujan lebat jelang Natal-Tahun Baru

Seorang penjual menyusun terompet jualannya di jalan Hayam Wuruk Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung, Lampung, Minggu (17/12/2017). Terompet buatan lokal tersebut dijual untuk perayaan Natal dan malam pergantian tahun. (ANTARA FOTO/Ardiansyah)

Jakarta (ANTARA News) - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengimbau masyarakat untuk mewaspadai kondisi cuaca yang diprediksikan akan terjadi hujan lebat menjelang Natal dan Tahun Baru.

"Berdasarkan analisis BMKG, potensi hujan lebat menjelang Natal 2017 dan Tahun Baru 2018 cukup besar. Hal ini disebabkan suplai massa udara lembab dari Samudera Pasifik dan daratan Asia serta dari Samudera Hindia yang terakumulasi di wilayah kepulauan Indonesia sehingga sangat intensif menjadi penyebab utama terjadi potensi hujan lebat di wilayah negara kita," kata Dwikorita di Jakarta, Senin.

Hal itu disampaikan pada konferensi pers tentang perkembangan kondisi cuaca dan iklim serta potensi ancaman gempa dan tsunami.

Dia menjelaskan, untuk beberapa wilayah yang berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat antara lain menjelang Natal yaitu pada 19-23 Desember 2017 akan terjadi di wilayah Aceh bagian barat, pesisir selatan Sumatera, Banten, pesisir utara Jawa, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan sebagian Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam periode Natal yaitu pada 24-26 Desember 2017, potensi hujan sedang hingga lebat antara lain di pesisir selatan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, NTB, NTT, Sulawesi Tengah dan Papua bagian tengah.

Menjelang Tahun Baru 2018 yaitu 26-31 Desember 2017 diprediksikan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akan terjadi di pesisir utara Jawa, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah dan Maluku.

Sedangkan awal tahun 2018 yaitu pada 1-7 Januari 2018 potensi hujan sedang hingga lebat antara lain terjadi di Aceh, pesisir barat Sumatera, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah dan NTT.

Selain itu, diprediksikan juga adanya potensi angin kencang yang mencapai lebih dari 20 knots atau lebih dari 65 km per jam juga berpotensi terjadi dibeberapa wilayah di Indonesia meliputi Laut Cina Selatan, Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Banda, Samudera Hindia selatan Jawa Tengah hingga Nusa Tenggara Barat.

"Potensi angin kencang tersebut berdampak pada peningkatan gelombang laut di beberapa wilayah antara lain Laut Cina Selatan dan Laut Natuna utara dengan tinggi gelombang mencapai 6-7 meter, ini yang perlu diwaspadai," tambah dia.

Selain itu juga di perairan Kepulauan Anambas, Kepulauan Natuna, Laut Natuna, Laut Jawa bagian tengah dan timur, Selat Makassar bagian selatan perairan Kepulauan Talaud dan perairan utara Halmahera diperkirakan akan mencapai tinggi gelombang 2,5-6 meter.

"Masyarakat diimbau agar waspada potensi genangan, banjir, maupun longsor bagi yang tinggal diwilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor, juga waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon atau baliho tumbang," katanya.

Ia juga menyarankan agar tidak berlindung di bawah pohon jika terjadi hujan disertai kilat atau petir. Waspada terhadap kenaikan tinggi gelombang laut saat hujan lebat disertai angin kencang pada kapal berukuran kecil terutama bagi para nelayan.

"Dimohon menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda. Jangan mudah terpancing dengan berbagai isu atau video animasi atau berbagai berita di sosial media. Kami juga terus memantau isu-isu yang berkembang di media sosial," kata Dwikorita.

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar