Partai Islam Malaysia Kecam Penghargaan bagi Salman Rushdie

Kualalumpur (ANTARA News) - Pendukung partai Islam Malaysia hari Rabu berunjukrasa di luar kedutaanbesar Inggris atas penghargaan keksatriaan kepada Salman Rushdie, yang novel "Ayat Setan"-nya menggusarkan Muslim seluruh dunia. Dengan meneriakkan "Hancurkan Salman Rushdie" dan "Hancurkan Inggris", sekitar 30 anggota lawan Partai Islam se-Malaysia mendesak London menarik kehormatan itu atau menghadapi akibatnya. "Itu mencemari keseluruhan keksatriaan, seluruh kehebatan pranata Inggris," kata bendahara partai Hatta Ramli kepada wartawan setelah partai itu menyerahkan surat protes ke pejabat kedutaan. "Pemerintah Inggris harus bertanggung jawab, karena menciptakan rasa marah mendadak tidak hanya pada Salman Rushdie, tapi pemerintah Inggris. Mereka harus memikul akibatnya," katanya dikutip Reuters. Sekitar 40 polisi berjaga-jaga, termasuk selusin bersenjata pentungan. Jurubicara Komisi Tinggi Inggris belum memberi tanggapan. Pada Selasa, negara sesama Muslim Pakistan dan Iran memanggil utusan tertinggi Inggris di negara mereka untuk memrotes penghargaan tersebut. Kementrian Luar Negeri Iran memanggil dutabesar Inggris untuk Teheran sehubungan dengan anugerah gelar bangsawan kepada pengarang Inggris kelahiran India Salman Rushdie, kata kantor berita Fars hari Rabu. Dutabesar Geoffrey Adams pada Selasa malam diberitahu bahwa langkah itu dianggap Teheran sebagai perbuatan memanas-manasi, yang membuat marah satu setengah miliar Muslim di seluruh dunia. Tapi, dutabesar itu menyatakan Rushdie dihadiahi untuk pekerjaan kesusasteraannya, sehingga sebaiknya tidak dipandang sebagai penghinaan terhadap Islam, yang merupakan agama kedua terbesar di Inggris. Pakistan hari Selasa memanggil dutabesar Inggris dan memberitahu dia bahwa penghargaan keksatriaan untuk pengarang Salman Rushdie tidak peka dan berlawanan dengan usaha membina pengertian di antara agama. Wanita jurubicara Kementerian Luar Negeri Tasnim Aslam menyatakan Komisaris Tinggi Inggris Robert Brinkley dipanggil. Parlemen Pakistan hari Senin menyetujui resolusi mencela keksatriaan itu dan menteri urusan agama menyatakan kehormatan itu bisa digunakan untuk membenarkan pemboman jibaku. Ratu Elizabeth II menyakiti perasaan Muslim seluruh dunia dengan anugerah itu, kata wakil ketua parlemen Iran hari Selasa. "Langkah ratu Inggris itu kembali menyakiti perasaan semua Muslim. Pertanyaan ialah apa yang ingin dicapai kerajaan itu dengan memanas-manasi lebih dari satu setengah miliar Muslim di seluruh dunia," kata Mohammad-Reza Bahonar dalam sidang parlemen. Penganugerahan itu dikutuk keras Teheran, yang menyatakan langkah tersebut menunjukkan permusuhan Inggris terhadap Islam dan menempatkan London sebagai lawan masyarakat Islam. Warga Pakistan hari Selasa melancarkan unjukrasa di beberapa kota meneriakkan "Mampuslah Rushdie" dan membakar patung pengarang Inggris kelahiran India itu. Rushdie, yang bukunya membuat pemimpin Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini mengeluarkan fatwa mati pada 1989 terhadapnya untuk penghujatan, dihadiahi keksatriaan pekan lalu atas jasanya bagi kesusasteraan pada hari ulang tahun ratu Elizabeth. "Ayat Setan" memicu kecaman, beberapa keras, Muslim di banyak negara sesudah diterbitkan pada 1988. Muslim menyatakan novel itu menghina nabi Mohammad dan mengejek Alquran serta peristiwa pada sejarah awal Muslim. Pada 1998, pemerintah Iran secara resmi menjauhkan diri dari fatwa awal, yang memaksa Rushdie bersembunyi sembilan tahun. Tapi, kelompok keras di Iran secara teratur membarui seruan bagi pembunuhannya, dengan menyatakan fatwa Khomeini tak dapat dicabut.(*)

Editor: Heru Purwanto
COPYRIGHT © ANTARA 2007

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar