Mumbai (ANTARA News) - Tiga keluarga Rohingya dari Myanmar terdiri atas 13 orang diselamatkan di kota Agra, India utara, pada akhir pekan lalu setelah setahun diperbudak sebagai pemulung, kata pihak berwenang.

Ketiga keluarga tersebut datang ke India setelah agen pengungsi di tempat pengungsian Bangladesh menjanjikan pekerjaan kepada mereka, namun mereka bekerja dalam waktu lama tanpa bayaran, kata pegiat, yang memberikan informasi terkait perbudakan tersebut kepada pihak berwenang.

Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa memperingatkan bahwa tempat pengungsian di Bangladesh adalah wilayah subur bagi pedagang manusia dan semakin besar arus pengungsi dari Myanmar menjadikan lebih banyak orang lagi terancam menjadi korban perkara tersebut.

"Majikan membayar uang kepada agen, namun tidak membayar upah mereka dengan mengatakan bahwa jumlah tersebut disesuaikan terhadap pekerjaan mereka," kata Nirmal Gorana dari Komite Kampanye Nasional untuk Pemberantasan Kerja Paksa, yang ikut dalam penyelamatan tersebut.

Pejabat setempat mengatakan tidak ada perkara perlakukan majikan tersebut dalam penyelidikan kepolisian yang sedang berlangsung namun mereka membenarkan bahwa para pengungsi itu diperbudak.

"Mereka mengumpulkan botol plastik dari tumpukan sampah, hidup dalam keadaan miskin ketika kami pergi untuk menyelamatkan mereka," kata Raju Kumar, seorang pejabat pengadilan di Agra, seperti diwartakan Thomson Reuters Foundation, Selasa.

Hampir 870.000 warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, termasuk sekitar 660.000 orang yang tiba setelah peristiwa 25 Agustus, ketika gerilyawan Rohingya menyerang sejumlah pos keamanan, kemudian tentara Myanmar melancarkan serangan balasan dalam menanggapi aksi pemberontak.

Namun, gelombang pengungsi ke India dimulai beberapa tahun lalu, dengan 40.000 Muslim Rohingya tinggal di India setelah melarikan diri dari Myanmar selama satu dasawarsa belakangan.

Pejabat setempat mengatakan bahwa Agra, daerah tempat Taj Mahal berada, merupakan wilayah padat penduduk dan sulit untuk mengenali pengungsi di antara penduduk setempat.

Pegiat menyerukan survai keluarga Rohingya di India untuk mengetahui kemungkinan lebih banyak pengungsi terjebak dalam keadaan semacam itu dan menuntut undang-undang India, yang menentang kerja paksa, juga diterapkan dalam perkara tersebut.

(Uu.Aulia/KR-AMQ)



Pewarta: Auliya Muttaqin
Editor: Heppy Ratna Sari
Copyright © ANTARA 2017