Laporan dari Bangladesh - ACT bangun rumah yatim piatu untuk anak-anak Rohingya

Laporan dari Bangladesh - ACT bangun rumah yatim piatu untuk anak-anak Rohingya

Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan membangun rumah yatim piatu untuk 1.000 anak-anak pengungsi Rohingya di desa Padua, Lohagara, di Chittagong. (ANTARA News/Monalisa)

Lohagara, Chittagong (ANTARA News) - Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan membangun rumah yatim piatu untuk 1.000 anak-anak pengungsi Rohingya di Desa Padua, Lohagara, di Chittagong.


Rumah yatim piatu yang dinamai Al-Hadarah Islamic School itu akan dibangun dengan luas gedung 1.115 m2 setinggi lima lantai, yang berdiri di atas lahan 1.600 m2.


Peletakan batu pertama dilakukan Jumat siang, dihadiri Anggota Parlemen Chittagong Profesor Dr Abu Reza Mohammed Nezamuddin.


"Banyak anak-anak yang mengungsi tanpa ayah dan ibu. Tercatat dalam hitungan PBB, ada 14.000 pengungsi yang yatim piatu. Kami berpikir masa depan mereka akan hancur terutama yang tidak mempunyai ayah dan ibu, apalagi mereka hidup di pengungsian," kata Manajer Program Global Humanity Response ACT Anca Rahadiansyah, Jumat.


Menurut Anca, pembangunan rumah yatim piatu ini merupakan pengembangan dari rumah yatim piatu yang sudah ada sebelumnya yang dibangun oleh lembaga pendidikan di Chittagong.


"Sekolah itu menampung 300-an yatim piatu dan anak-anak miskin Bangladesh. Karena jumlahnya semakin banyak, maka ACT mengembangkan rumah yatim piatu ini untuk menampung dan mendidik anak-anak Rohingya serta tidak menutup mata bagi anak-anak Bangladesh," jelas Anca.


Anca mengatakan pembangunan rumah yatim piatu tersebut ditargetkan bisa selesai selama enam bulan kedepan. Gedungnya terdiri dari satu gedung sekolah dan gedung untuk tempat tinggal.


Terdapat 129 tenaga pengajar yang akan bekerja dengan dukungan dari ACT. 


"Tenaga pengajarnya ada dari Bangladesh lulusan S1 dan S2, Hafidz Qur’an, guru bahasa Inggris, pendidik non akademis bahkan kami memperkerjakan pengungsi lama Rohingya menjadi tenaga pengajar," jelas Anca.





Potret anak-anak pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Madhuchara, Kutupalong, Kamis (21/12/2017). (ANTARA News/Monalisa)



Gaji guru-guru tersebut, dibiayai dari donasi masyarakat Indonesia yang disalurkan melalui ACT, tambah General Manager Komunikasi ACT Lukman Azis.

"Tenaga pengajar itu dibiayai dalam mata uang Bangladesh jika dikonversikan ke rupiah sekitar Rp2 juta. Ini menjadi program berkelanjutan dari ACT," kata Lukman.





Program jangka panjang


Menurut Anca, ACT akan terus mendampingi pengungsi Rohingya dengan program-program pemulihan jangka panjang.


"ACT tidak akan berhenti sampai di sini. Karena mereka ini tidak punya kewarganegaraan. Walau sudah ada MoU repatriasi antara Myanmar dan Bangladesh, itu bisa sampai puluhan tahun. Ini adalah program jangka panjang, mereka adalah etnis yang paling sengsara di dunia," kata Anca.





Baca juga rangkaian Laporan dari Bangladesh berikut:

Anak-anak Rohingya dalam mata lensa

Pengungsi Rohingya masih rentan terserang penyakit

Perjalanan berliku menuju kamp pengungsian Rohingya

Pewarta: Monalisa
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Indonesia desak Myanmar selesaikan akar masalah pengungsi Rohingya

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar