Gunung Agung meletus lagi, tapi tak membahayakan

Gunung Agung meletus lagi, tapi tak membahayakan

Arsip Foto. Warga menyaksikan asap disertai abu vulkanis keluar dari kawah Gunung Agung yang masih berstatus awas, di Pos Pengamatan Gunung Api Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali, Sabtu (9/12/2017). (ANTARA /Nyoman Budhiana)

Jakarta (ANTARA News) - Gunung Agung meletus lagi pada Minggu pukul 10.05 WITA, mengeluarkan asap kelabu tebal dengan tinggi kolom abu vulkanik sekitar 2.500 meter di atas puncak kawah mengarah ke timur laut.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers mengatakan erupsi hanya berlangsung sesaat, sekitar 10 menit.

Pada Sabtu (23/12) pukul 11.57 WITA, Gunung Agung juga mengeluarkan asap kelabu tebal setinggi sekitar 2.500 meter condong ke timur laut. Hujan abu disertai pasir tipis terjadi di sekitar lereng Gunung Agung, seperti di Tulamben dan Kubu.

"Tidak ada dampak merusak dari kedua erupsi tersebut. Aktivitas masyarakat di Bali normal. Justru banyak masyarakat di sekitar Bali menikmati erupsi. Tidak ada kepanikan di masyarakat. Saat ini masyarakat sudah teredukasi dengan cukup baik mengenai erupsi dan ancaman dari Gunung Agung," katanya.

Sutopo mengatakan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Agung masih tinggi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sampai saat ini masih menetapkan Gunung Agung status Awas (level 4) yang diberlakukan sejak 27 November lalu.

Namun, status Awas itu hanya berlaku pada radius 8-10 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung.

"Artinya masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di dalam radius 8-10 kilometer dari puncak kawah. Di luar area itu aktivitas dapat berjalan normal dan masih tetap aman," ungkapnya.

Sutopo menlanjutkan kode VONA (Vulcano Observatory Notice for Aviation) untuk Gunung Agung saat ini Oranye. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar dan Bandara Internasional Lombok beroperasi normal dan aman.

Ia menambahkan, selama musim penghujan hingga April 2018, arah angin di Bali akan dominan ke arah timur-tenggara sehingga Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar akan aman.

Sementara itu, jumlah pengungsi erupsi Gunung Agung saat ini tercatat 71.045 orang yang tersebar di 239 titik pengungsian. Rinciannya, 42.928 orang di Kabupaten Karangasem, 11.441 orang di Kabupaten Klungkung, 9.938 orang di Kabupaten Buleleng, 977 orang di Kabupaten Bangli, 3.502 orang di Kabupaten Gianyar, 205 orang di Kabupaten Jembrana, 730 orang ada di Kabupaten Tabanan, 590 orang di Kabupaten Badung, dan 734 orang di Kota Denpasar.

Sutopo mengatakan bahwa pencabutan status tanggap darurat penanganan erupsi Gunung Agung tidak akan mengubah bantuan penanganan pengungsi. Ia menjelaskan bahwa status tanggap darurat hanya ditetapkan untuk kemudahan akses dalam administrasi.

"Untuk itulah saat ini sedang disiapkan Peraturan Presiden yang mengatur kemudahan akses dalam administrasi, bantuan logistik dan keuangan guna terus membantu penanganan pengungsi dan dampak yang ditimbulkan erupsi Gunung Agung.," katanya.

Ia mengimbau masyarakat tetap tenang, dan menegaskan erupsi tidak membahayakan selama berada di luar radius yang telah ditetapkan PVMBG.

"Bali aman dan normal. Jangan takut untuk berkunjung ke Bali. Saat ini jumlah wisatawan baik, domestik dan mancanegara terus meningkat. Ikuti semua perkembangan terkini Gunung Agung dari Magma PVMBG. Tanyakan kepada Posko Utama BPBD dan Pos Pendampingan Nasional BNPB terkait Gunung Agung," katanya.

Pewarta:
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar