Warga doa bersama di kuburan massal korban Tsunami

Warga doa bersama di kuburan massal korban Tsunami

Petugas memotong rumput saat mengerjakan perawatan komplek Kuburan Massal Tsunami, di Desa Ulee Lheue, Meuraxa, Banda Aceh, Aceh, Kamis (21/12/2017). Perawatan kuburan massal korban tsunami dan beberapa situs lainnya tersebut dalam rangka menjelang peringatan 13 tahun bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004. (ANTARA FOTO/Ampelsa)

Banda Aceh (ANTARA News) - Ratusan warga menggelar doa dan zikir bersama di Kuburan Massal Korban Tsunami Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. 

Zikir dan doa bersama memperingati 13 tahun gempa dan tsunami tersebut turut dihadiri Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman. Serta sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah, dan keluarga korban bencana 26 Desember 2004.

Dalam kegiatan tersebut warga larut dalam doa dan zikir. Tidak sedikit dari mereka meneteskan air mata. Kendati begitu, mereka tetap khusyuk mengikuti doa dan zikir bersama.

Rohani, keluarga korban tsunami, mengaku dirinya setiap tahun berdoa di kuburan massal tersebut. Ia meyakini keluarganya yang menjadi korban bencana 13 tahun silam dimakamkan di Kuburan Massal Ulee Lheue.

"Saya yakin, keluarga saya yang menjadi korban tsunami dimakamkan di tempat ini. Saya selalu berdoa di kuburan massal ini," kata Rohani seraya menyebutkan ada sejumlah keluarganya meninggal dunia saat gempa dan tsunami 13 tahun silam.

Ucapan senad ajuga disampaikan Nur Azizah warga Blang Oi , Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Ia mengaku setiap 26 Desember selalu berdoa di Kuburan Massal Ulee Lheue karena dirinya yakin keluarganya dimakamkan di tempat itu.

"Walau saya tidak tahu pasti di mana makam mereka, tetapi saya meyakini mereka dikuburkan di tempat ini. Sudah 13 tahun berlalu, saya masih merasa kehilangan mereka," kata dia.

Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman mengajak masyarakat tidak larut dengan musibah yang terjadi 13 tahun lalu tersebut. Masyarakat harus mampu bangkit menata hidup lebih baik lagi.

"Jangan larut dengan musibah. Kami mengajak bangkit keluar dari musibah. Walau musibah tersebut sulit dilupakan," kata Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman.

Gempa berkekuatan 9,2 skala richter disusul tsunami yang terjadi di Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 meluluhlantakkan sebagian Provinsi Aceh. Bencana tersebut mengakibatkan lebih dari 250 ribu orang meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal. 

Pewarta:
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar