Ada bunker kuno di Kompleks Balai Kota Solo

Ada bunker kuno di Kompleks Balai Kota Solo

Ilustrasi--Sejumlah wisatawan mengunjungi wisata sejarah Lubang Jepang di Bukit Tinggi, Sumbar, Sabtu (7/2). Lubang Jepang merupakan sebuah terowongan (bunker) perlindungan yang dibangun tentara pendudukan Jepang sekitar tahun 1942 untuk kepentingan pertahanan yang dijadikan salah satu tujuan wisata sejarah di Bukit Tinggi. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Solo (ANTARA News) - Pemerintah Kota Solo mempersilahkan masyarakat menikmati keindahan bunker yang berada di Kompleks Balai Kota Solo.

"Bunker ini juga bisa menjadi spot baru preweding untuk masyarakat Solo," kata Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo di sela kunjungannya ke bunker di Solo, Rabu.

Ia mengatakan sejak bulan Agustus 2017, Pemkot Solo merestorasi bunker kuno yang tepatnya ada di Kompleks Gedung Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Balai Kota Solo.

"Total anggaran yang digunakan untuk proyek restorasi ini sekitar Rp747,8 juta," katanya.

Ia mengatakan bunker dengan total panjang 16x24 meter tersebut merujuk temuan warga sekitar. Tepatnya ditemukan pada tahun 2012 untuk selanjutnya diteliti oleh Tim Arkeologi dari Yogyakarta.

"Hasil kajiannya yaitu dulunya bunker ini digunakan sebagai tempat untuk menyimpan benda dan ruang pertahanan pada masa pemerintahan Belanda," katanya.

Sementara itu, untuk memberikan kenyamanan kepada masyarakat yang ingin berkunjung ke bunker tersebut, ke depan pihaknya akan menambah gazebo.

"Dengan adanya gazebo akan makin menarik bagi wisatawan. Diharapkan bunker ini juga bisa menjadi destinasi wisata baru di Kota Solo," katanya.

Selain itu, pihaknya juga akan menempatkan beberapa petugas di dalam bunker, tugasnya agar bisa memberikan informasi seputar bunker yang dibutuhkan oleh para pengunjung. Nantinya, para petugas akan dilengkapi dengan kostum Belanda dan Jepang.

"Tujuannya agar masyarakat makin merasakan nuansa masa lalu. Untuk biaya masuknya, kami akan gratiskan," katanya.

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar