counter

Universitas Muhammadiyah Surabaya tuan rumah Tanwir Aisyiah

Universitas Muhammadiyah Surabaya tuan rumah Tanwir Aisyiah

Arsip: Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

Surabaya (ANTARA News) - Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) ditunjuk Pimpinan Pusat Aisyiah untuk menjadi tempat pelaksanaan Tanwir di Surabaya, pada 19-21 Januari mendatang.

Dalam Tanwir itu para tokoh penting seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nasir serta beberapa menteri Kabinet Kerja dijadwalkan hadir.

Rektor UMS Dr Sukadiono di Surabaya, Rabu mengatakan, Tanwir rencananya dihadiri oleh peserta dari seluruh Indonesia. Pembukaannya dihadiri sekitar 2.000 peserta dan peserta tetap dari 500 perwakilan se-Indonesia.

Suko sapaan akrabnya menambahkan, menyambut agenda itu, pihaknya telah menyiapkan gedung berlantai 13 yang rencananya diresmikan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Pembangunan gedung 13 lantai tersebut menghabiskan dana hampir Rp100 miliar.

"Semoga pelaksanaannya nanti dapat berjalan dengan khidmat dan lancar," kata Suko yang juga bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur itu.

Dia menjelaskan, acara itu nantinya mengambil tema Gerakan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Pilar Kemakmuran Bangsa. Salah satu permasalahan krusial dalam kehidupan bangsa Indonesia ialah masalah perekonomian seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, penguasaan kekayaan negara oleh sekelompok kecil masyarakat, dan sebagainya.

Dalam keadaan yang demikian usaha-usaha pemberdayaan ekonomi rakyat dengan kondisi kehidupan mayoritas rakyat pada umumnya makin tidak mudah untuk diwujudkan, sementara yang paling merasakan dampak dari kemiskinan adalah kelompok perempuan dan anak-anak.

Sebagai usaha mewujudkan kemakmuran bangsa dan pemecahan atas masalah-masalah ekonomi yang menyangkut hajat hidup rakyat, di antaranya diperlukan gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan.

"Perempuan merupakan kekuatan potensial dalam pembangunan dan kemajuan bangsa, termasuk untuk menjadi pelaku gerakan pemberdayaan ekonomi," ujarnya.

Dengan etos kerja dan kegigihan, lanjut Suko, perempuan akan menjadi kekuatan strategis dalam gerakan pemberdayaan ekonomi untuk mewujudkan kemakmuran bangsa. Bersamaan dengan itu, karena mayoritas perempuan dalam sejumlah hal sering mengalami pelemahan maka diperlukan usaha-usaha pemberdayaan perempuan, khususnya dalam ekonomi, sehingga membawa dampak positif langsung bagi kemakmuran bangsa.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar