Iran selenggarakan pawai pro-pemerintah setelah unjuk rasa hari keenam

Iran selenggarakan pawai pro-pemerintah setelah unjuk rasa hari keenam

Warga berpartisipasi reli pro pemerintahan, Iran, Rabu (3/1/2018). (Tasnim News Agency/Handout via)

London (ANTARA News) - Ribuan warga Iran ikut serta dalam pawai pro-pemerintah di beberapa kota pada Rabu dalam unjuk kekuatan yang ditaja negara setelah kerusuhan di jalan selama enam hari yang telah mengguncang kepemimpinan ulama itu dan menewaskan 21 orang.

Televisi negara menyiarkan langsung gambar-gambar pawai di kota Kermanshah dan Ilam, di bagian barat daya daN kota Gorgan di bagian utara. Para pengunjuk rasa itu mengibarkan bendera-bendera Iran dan gambar-gambar Pemimpin Tertinggi Ayatulloh Ali Khamenei.

Di kota Qom, para demonstran meneriakkan "matilah para tentara bayaran Amerika". Pawai-pawai juga berlangsung di Isfahan, kota terbesar ketiga di Iran, dan Abadan dan Khorramshahr di bagian barat daya yang kaya minyak, demikian siaran TV negara.

Para peserta pawai menyuarakan dukungan bagi Khamenei, dengan meneriakkan, "Darah di urat nadi kami adalah hadiah kepada pemimpin kami," dan "Kami tak akan biarkan pemimpin kami sendirian." Mereka menuding Amerika Serikat, Israel dan Inggris menyulut kerusuhan dan meneriakkan, "Para perusuh yang dihasut seharusnya dieksekusi!"

Protes-protes anti pemerintah, yang meletus pekan lalu akibat frustrasi terhadap kesulitan ekonomi di antara kaum muda dan kelas pekerja, telah tumbuh menjadi tantangan bagi tatanan mapan Iran dalam hampir satu dekade.

Aksi-aksi unjuk rasa, yang diatur di media sosial, diselenggarakan menjelang malam dan berlanjut ke Selasa malam dengan video disiarkan di media sosial yang menunjukkan para demonstran di jalan-jalan dan polisi anti huru-hara dikerahkan di beberapa kota termasuk Ahvaz di bagian barat daya.

Beberapa jam sebelumnya, Khamenei telah menuding musuh-musuh Iran menggerakkan protes-protes, beberapa di antaranya telah mengecamnya dengan menyebut nama dan menyeru dia agar mundur.

Aksi-aksi protes tersebut paling serius sejak tahun 2009, ketika warga Iran turun ke jalan-jalan akibat tuduhan-tuduhan telah terjadi kecurangan dalam terpilihnya kembali Presiden waktu itu Mahmoud Ahmadinejad.

Ratusan orang telah ditangkap di seantero negeri itu dan seorang pejabat pengadilan memperingatkan sejumlah orang dapat dijatuhi hukuman mati.

Aksi-kasi protes telah menekan Presiden Hassan Rouhani, yang berhasil membuat perjanjian dengan kekuatan-kekuatan dunia pada tahun 2015 untuk mengekang progranm nuklir Iran yang disengketakan sebagai imbalan bagi pencabutan sebagian besar sanksi internasional terhadap Teheran.

Banyak yang melakukan protes frustrasi terhadap apa yang mereka lihat kegagalan pemerintahannya sejauh ini guna memenuhi janji-janji menciptakan lapangan kerja dan investasi sebagai imbalan dari persetujuan nuklir.

Rouhani, yang telah menyatakan para demonstran punya hak untuk protes, mengatakan kepada Presiden Turki Tayyip Erdogan dalam pembicaraan lewat telepon pada Rabu bahwa ia berharap kerusuhan akan berakhir beberapa hari lagi.

"Kami meyakini stabilitas dan keamanan Iran ... Orang-orang bebes di Iran untuk protes selama masih dalam koridor hukum," kata Rouhani yang dikutip oleh kantor berita IRNA, demikian Reuter.

(Uu.SYS/A/M016/A/M016) 03-01-2018 20:46:39

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar