Pilkada Sulsel sepuluh perseorangan satu kotak kosong

Pilkada Sulsel sepuluh perseorangan satu kotak kosong

KPU (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Makassar (ANTARA News) - Penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak tahun 2018 akan dilaksanakan di 13 daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel), di antaranya ada 10 peserta melalui jalur perseorangan dan satu peserta akan melawan kotak kosong.

"Dari total jumlah peserta yang akan ikut pilkada serentak di Sulsel, ada sepuluh bakal pasangan calon independen, dan satu bakal calon yang tidak punya lawan alias melawan kotak kosong," kata Ketua KPU Sulsel Iqbal Latief di Makassar, Sabtu.

Menurut dia, jumlah bakal kandidat perseorangan tersebut jauh meningkat dari pilkada sebelumnya, bahkan satu kabupaten di Sulsel yakni Kabupaten Enrekang diikuti satu pasangan bakal pasangan calon bupati dan wakil bupati.

Meskipun demikian, kata dia, pesta demokrasi di Sulsel telah berjalan dinamis sepanjang proses tahapan pendaftaran hingga kini dalam masa pemeriksaan kesehatan yang dipusatkan di Rumah Sakit Umum Wahidin Sudirohusodo Makassar.

"Kami berharap proses demokrasi pemilihan kepala daerah di Sulsel berjalan demokratis aman dan damai," harap dia.

Ia menyebutkan tahap pemeriksaan kesehatan para bakal calon kepala daerah sedang berjalan dengan jumlah total 37 pasangan bakal calon dari 13 daerah termasuk bakal calon gubernur dan wakil gubernur.

"Rencananya penetapan bakal calon menjadi calon kepala daerah akan ditetapkan pada 12 Februari 2018," ujarnya.

Berdasarkan data KPU Provinsi Sulsel untuk bakal calon bupati dan wakil bupati yang melawan kotak kosong di Kabupaten Enrekang yakni pasangan H Muslimin Bando-Asman yang didukung tujuh partai politik.

Sementara 10 bakal calon yang menempuh jalur perseorangan di antaranya pasangan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) sebagai satu-satunya peserta jalur independen dari empat peserta pendaftar pada Pilkada Sulsel.

Selanjutnya di Kabupaten Bantaeng diikuti dua pasangan jalur independen dari empat peserta masing-masing pasangan A Baso Fahrir-Alam Syahruddin dan Muh Alwi-Nurdin Halim, dan juga Kabupaten Jeneponto diikuti satu pasangan independen yaitu pasangan HA Baharuddin Baso Jaya-H Isnaad Ibrahim.

Di Kabupaten Bone satu peserta perseorangan dari dua peserta yang bakal bertarung pada pilkada serentak tahun ini yakni pasangan H Rizalul Umar-H Andi Mappamadeng Dewang.

Begitu juga di Kabupaten Sidrap tercatat empat peserta pendaftar pilkada tahun 2018, di antaranya dua peserta jalur perseorangan masing-masing pasangan A Ikhsan Hamid-M Resky Jabir dan pasangan Soalihin-Muhammad Nasiyanto.

Peserta independen juga terdaftar pada pilkada Kabupaten Pinrang yakni pasangan H Hamka Mahmud-Ahsan, selebihnya tiga pasangan lainnya dari jalur Parpol.

Sementara di dua kota di Sulsel, yakni Kota Makassar terdaftar dua peserta pasangan, satu di antaranya dari jalur perseorangan yakni pasangan Moh Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari, dan di Kota Palopo terdaftar tiga peserta, di antaranya satu bakal calon independen yakni pasangan H Buya Andi Ikhsan-A Togellangi Sulthani.

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Firdaus Muhammad menyatakan bahwa bertambahnya jumlah peserta perseorangan dan adanya bakal kandidat yang melawan kotak kosong merupakan fenomena politik yang tidak biasa pada pilkada tahun ini.

"Adanya perilaku Parpol yang tidak konsisten membuat bakal calon memilih jalur perseorangan dan pragmatisme parpol pun menjadi salah satu indikatornya. Ketidakseimbangan pilihan parpol juga menjadi penyebabnya," papar dia.

Menurut dia, juga hadirnya calon perseroangan itu disebabkan sulitnya kandidat mendapatkan partai akibat ketidakonsistensinya parpol yang berubah-ubah, bahkan ada yang sudah mendapatkan parpol, namun belakangan memilih maju independen.

"Inilah yang menjadi fenomena baru, namun perlu dievaluasi karena adanya kesalahan partai, padahal Pilkada merupakan pelajaran pada Pemilu nanti bagi parpol, termasuk fenomena kotak kosong," ungkap Firdaus.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar