Pengusaha sarung batik Pekalongan sasar Asia Tenggara

Pengusaha sarung batik Pekalongan sasar Asia Tenggara

Dokumentasi pekerja menjemur kain batik di tanah lapang di kawasan sentra kerajinan batik kelurahan Jenggot, Pekalongan Selatan, Jawa Tengah, Rabu (27/1). Kain batik Pekalongan yang telah kering kemudian dipotong-potong dan dirapikan untuk selanjutnya dijual ke berbagai wilayah di Indonesia dengan harga Rp30.000-Rp60.000 per lembar. (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Pekalongan, Jawa Tengah (ANTARA News) - "Beberapa negara di Asia Tenggara akan menjadi sasaran ekpsor kain sarung batik asal Pekalongan, Jawa Tengah," kata Sekretaris Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia setempat, Arief Wicaksono .

"Selama ini, kain sarung batik Pekalongan masih mendominasi ekspor ke sejumlah negara kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam," kata dia, di Pekalongan, Minggu.

Ia mengatakan, kendati permintaan konsumen terhadap kain sarung batik sedikit mengalami penurunan akibat adanya krisis global tetapi negara di kawasan Asia Tenggara masih menjadi tujuan utama sasaran ekspor produk kerajinan batik.

Selain kain sarung batik, kata dia, asephi juga mengekspor produk kerajinan lain seperti daster dan batik rayon ke sejumlah kawasan Timur Tengah, Afrika, Amerika Serikat, Australia, dan Amerika Latin.

"Kain sarung batik, daster, dan batik rayon masih banyak diminati pasar mancanegara. Oleh karena, kami selalu mengusahakan produk batik yang terbaik untuk kembali menambah pangsa pasar di luar negeri," katanya.

Ia mengatakan, krisis global memang cukup berpengaruh besar terhadap daya beli masyarakat terhadap kerajinan batik sehingga pelaku batik harus bisa meningkatkan krasi dan inovatif agar kerajian batik tetap bertahan dan diminati konsumen.

"Daya beli masyarakat terhadap produk kerajinan batik turun pada 2017 dan tampaknya belum pulih hingga sekarang. Hal itu juga berpangaruh terhadap penurunan produksi batik hingga mencapai 10 persen sampai 20 persen," katanya.

Menurut dia, turunnya daya beli masyarakat terhadap kerajinan batik memang tidak hanya terjadi di Kota Pekalongan tetapi juga hampir merata di sejumlah negara tujuan ekspor.

"Kendati demikian, pada tahun ini kami memperkirakan daya beli masyarakat akan meningkat lagi karena faktor keamanan dan kenyamanan, serta kebijakan pemerintah yang cukup baik dalam upaya menggeliatkan ekspor," katanya.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar