Dinkes Banten catat 12 penderita difteri meninggal

Dinkes Banten catat 12 penderita difteri meninggal

Dokumentasi--Dokter mengamati reaksi obat dalam infus terhadap terduga (suspect) penderita difteri di RSUD Drajat Prawiranegara Serang, Banten, Senin (18/12/2017). (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman)

Lebak (ANTARA News) - Dinas Kesehatan Provinsi Banten mencatat sebanyak 12 penderita dari 224 kasus difteri di daerah ini dilaporkan meninggal dunia.

Kepala Seksi Surveilans Imunisasi dan Krisis Kesehatan Dinkes Banten, drg Rostina saat dihubungi di Lebak, Minggu, mengatakan selama ini kasus difteri mendapat perhatian pemerintah agar penyakit tersebut tidak meluas.

Untuk pencegahan penyakit difteri itu pihak Dinkes Banten telah melaksanakan standar operasi prosedur (SOP) yakni sensifitas penemuan kasus.

Selain itu juga melakukan penatalaksanaan kasus sesuai protap juga melaksanakan penyelidikan epidemiologi.

Disamping itu juga melaksanakan Outbreak Respons Iminization (ORI).

Selanjutnya, pelaporan berjenjang mulai puskesmas, Dinkes Kota/Kabupaten,Dinkes Banten dan sp ke Kemenkes setiap hari.

"Kami melakukan langkah itu guna mengatasi penyakit difteri agar tidak meluas," katanya menjelaskan.

Menurut dia, penyebaran penyakit difteri itu akibat tidak dilakukan imunisasi ORI vaksin difteri-tetanus (DT).

Masyarakat agar melakukan imunisasi ORI vaksin DT agar tidak terserang penyakit tersebut.

Saat ini, pelaksanaan imunisasi ORI untuk Kabupaten Tangerang jumlah sasaran 1.192.124 orang dan realisasi cakupan 847.751 orang atau 71,11 persen.

Kabupaten Serang 526.270 orang cakupan 321.352 orang atau 61,06 persen.

Kota Tangerang 618.509 orang cakupan 362.823 orang atau 58,66 persen.

Kota Serang 238.691 orang dan cakupan 132.283 orang atau 55,47 persen.

Kota Tangsel 478.594 orang dan cakupan 271.830 orang atau 56,80.

"Kita baru tercapai realisasi ORI dari total sasaran 3.053.988 orang dan cakupan 1.936.039 orang atau 63,39 persen. Kita berharap pekan depan bisa diatas angka 95 persen," katanya.

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar