counter

Kata KPAI soal efek vaksinasi difteri di Tulungagung

Kata KPAI soal efek vaksinasi difteri di Tulungagung

Foto dokumen: Petugas menyuntikkan vaksin Td (Tetanus difteri) kepada siswa SD di ruang UKS SD Insan Kamil, jalan Dramaga, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (28/11/2016). (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah) ()

Jakarta (ANTARA News) - Komisioner bidang kesehatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawatty mengatakan tidak terjadi efek samping muntah, diare, badan sakit, dan demam pada anak yang mendapatkan vaksinasi difteri sebagaimana yang dikabarkan terjadi di Tulungagung, Jawa Timur.

"Terkait Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), gejala umum yang lazim berkaitan dengan vaksin difteri pada KIPI biasanya bengkak, merah, nyeri di sekitar suntikan," kata Sitti di Jakarta, Senin.

Menurut dia, pemberitaan mengenai anak muntah, diare, badan sakit dan demam akibat vaksinasi difteri di Tulungagung tidak benar. Sebelumnya, KPAI menerima informasi terkait kasus yang menimpa murid di daerah Tulungagung tentang efek imunisasi difteri.

Dari informasi tersebut disampaikan lebih dari 80 anak yang jatuh sakit dan sebagian dirawat di RS dengan keluhan yang beragam antara lain mual sampai dengan muntah, diare, badan terasa sakit hingga demam.

Sitti mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat yang menangani dan di lokasi lain tidak ada kejadian seperti itu. KPAI berkoordinasi dengan anggota IDAI yang memperkuat pernyataan gejala KIPI.

Hasil penelusuran dengan pihak Kemenkes, kata dia, didapat informasi bahwa hasil pemeriksaan laboratorium pada pasien menunjukkan positif terkena kontaminasi Salmonella typhi yang diduga berasal dari makanan. Selama murid mendapatkan vaksinasi mereka juga mengonsumsi makanan yang sama dari pihak sekolah.

Maka dari itu, Sitti mengimbau agar media tidak cepat-cepat menyimpulkan sebuah kejadian karena berdekatan dengan kegiatan imunisasi.

"Ada kekhasan dampak KIPI, pihak medis yang paling berkompeten menilai kejadian tersebut sebagai KIPI atau bukan. Kita tidak bisa menggunakan asumsi dalam menilai kejadian medis, karena indikator medis ini jelas. Biarkan sistem bekerja, masyarakat diminta melaporkan melalui saluran resmi yang ada," kata dia.

Pewarta: Anom Prihantoro
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar