counter

Perempuan India korban pelecehan seksual sumbangkan pakaian sebagai bentuk protes

Perempuan India korban pelecehan seksual sumbangkan pakaian sebagai bentuk protes

ilustrasi pelecehan seksual (ANTARA News /Andre Angkawijaya)

Chennai (ANTARA News) - Seorang perempuan di India, Yamini Karunagaran, menyumbangkan pakaian yang dikenakannya ketika mengalami pelecehan seksual kepada lembaga pegiat anti-pelecehan seksual, Blank Noise.




Hal itu dilakukan Karunagaran sebagai bentuk protes bukan hanya terhadap pelecehan seksual yang dialaminya, tetapi juga atas reaksi dan tanggapan yang diterimanya ketika ia mengungkapkan pengalaman buruknya tersebut.




Karunagaran sedang naik bus untuk bekerja di Kota Bengaluru, bagian selatan India, saat seorang pria, yang duduk di kursi khusus wanita, menggodanya, dan mengikutinya saat dia turun.




Hampir sama mengganggunya dengan kejadian itu adalah tanggapan banyak orang saat ia menceritakan kisah itu.




"Itu membuat saya marah karena begitu banyak orang kemudian bertanya kepada saya apa yang saya kenakan," kata Karunagaran kepada Thomson Reuters Foundation.




Reaksi yang diterima Karunagaran itu hampir lazim didapati korban pelecehan seksual dan penyerangan, yang mempengaruhi hampir empat dari setiap lima perempuan di India, kata survei pada 2016 oleh ActionAid UK, lembaga nirlaba.




Alih-alih meminta pertanggungjawaban pelaku, banyak orang mengalihkan kesalahan pada korban, menuduhnya mengundang perhatian dengan mengenakan pakaian yang terbuka atau tertawa terlalu keras.




Sebagai bentuk protes, Karunagaran memutuskan untuk menyumbangkan pakaian yang dia kenakan saat itu ke Blank Noise.




Blank Noise merupakan kelompok pegiat yang memulai kampanye anti-pelecehan seksual bertajuk "Saya tidak pernah memintanya", yang telah menjadi bagian dari percakapan nasional tentang pelecehan.




Blank Noise bergerak ke berbagai kota untuk mengumpulkan pakaian wanita dilecehkan dan menampilkannya di ruang tempat mereka berkumpul untuk saling mendukung dan acana-acara lainnya.




"Beberapa telah membawa pakaian bibi mereka yang sudah tua, sementara yang lain telah memberikan pakaian yang mereka kenakan saat disiksa sewaktu kecil," kata pendiri organisasi itu Jasmeen Patheja.




"Para perempuan itu memberitahu kami bagaimana mereka menyelipkan pakaian mereka di sudut lemari mereka," katanya, "Itu adalah kenangan yang tidak bisa hilang."




Karunagaran "berpakaian tradisional" saat dilecehkan. Celana ketat oranye dan kurta-nya, kemeja longgar selutut, sekarang tergantung di rak di samping beragam pakaian dari semua gaya.




Di antara pakaian-pakaian yang disumbangkan itu adalah celana, kaos tanpa lengan merah jambu, dan kemeja merah jambu yang dipakai perancang busana berusia dua puluh enam tahun Eeshita Kapadiya saat dia dilecehkan.




"Pakaian-pakaian ini membantu orang melihat peristiwa ini seperti apa adanya dan menyadari bahwa tidak masalah dengan apa yang Anda kenakan saat Anda dilecehkan atau diserang," kata Kapadiya, yang menolak memberikan rincian pelecehan yang dideritanya.




Survei ActionAid menemukan bahwa hampir 80 persen wanita India di India mengalami pelecehan dan serangan yang berkisar dari menatap, menghina dan siulan, dikutit, diraba-raba atau bahkan diperkosa.




Peristiwa itu terjadi di jalan, di taman, di acara komunitas, di kampus dan di angkutan umum, kata para pegiat.




Sameera Khan, penulis buku tentang risiko bagi wanita di jalan-jalan di Mumbai "Why Loiter?", mengatakan bahwa Blank Noise, dan juga wanita seperti Kapadiya dan Karunagaran, membuat pernyataan yang kuat, meski sudah lama terlambat.




"Gerakan seperti itu dengan tegas menyalahkan pelaku," katanya.

Pewarta: GNC Aryani
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Presiden segera tandatangani surat persetujuan amnesti

Komentar