Ribuan murid dan mahasiswa Hungaria demonstrasi tuntut reformasi pendidikan

Ribuan murid dan mahasiswa Hungaria demonstrasi tuntut reformasi pendidikan

Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban. (REUTERS)

Budapest, Hungaria (ANTARA News) - Ribuan murid sekolah dan mahasiswa perguruan tinggi berunjuk rasa di luar gedung parlemen Hongaria untuk menuntut reformasi sistem pendidikan, yang dianggap gagal mempersiapkan kehidupan mereka di abad ke-21.

Para pelajar mengatakan sistem pendidikan saat ini terlalu kaku memusatkan perhatian cenderung pada pembelajaran dengan menghafal fakta.

Sistem pendidikan di Hungaria mereka anggap tidak mendorong anak didik untuk berpikir kritis ataupun kreatif.

Di tengah guyuran hujan dan suhu yang membekukan, para pelajar membentangkan spanduk-spanduk yang digambari ekspresi wajah marah serta ditulisi berbagai kalimat seperti "Saya tahu saya jadi tambah bodoh" dan "Otak saya menyusut."

"Unjuk rasa ini pada dasarnya (dilakukan) untuk menuntut reformasi, tapi kita bisa katakan juga sebagai protes terhadap pemerintah, (demonstrasi) untuk mengkritik tugas pemerintah dalam bidang pendidikan," kata seorang pelajar berusia 17 tahun bernama Balazs Fuzfa.

"Saya sangat setuju bahwa sistem pendidikan umum saat ini buruk," tambah Flora Kokendi, 21 tahun, mahasiswa universitas.

Para pengecam pimpinan Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orban, mengatakan, pemerintahan sayap kanan itu telah gagal mereformasi sistemnya di berbagai bidang seperti pendidikan dan kesehatan. Dua bidang itu  juga dalam masalah besar karena banyak anak muda cerdas Hongaria yang kemudian pindah ke negara-negara Eropa barat.

"Pendidikan yang adil, demokratis dan modern untuk semua pelajar," demikian bunyi salah satu selebaran yang dibuat para demonstran.

Mereka juga menuntut agar pelajar diberi kebebasan memilih buku pelajaran serta agar jam sekolah wajib dikurangi.

Partai asal Orban, Fidesz, diperkirakan akan memenangi periode ketiga berturut-turut dalam pemilihan tahun ini, yang dijadwalkan berlangsung pada 8 April.

Orban, yang mulai berkuasa sejak 2010, telah menggunakan masa jabatanya untuk mengubah ratusan undang-undang dan undang-undang dasar serta memusatkan kekuasaan.

Reformasi yang dilakukannya, seperti dalam bidang kehakiman dan media, telah memicu konflik dengan Uni Eropa.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar