Pemprov Jatim: Sampang penyumbang difteri terbanyak

Pemprov Jatim: Sampang penyumbang difteri terbanyak

Arsip: Petugas medis menyuntikkan vaksin difteri kepada seorang anak saat pelaksanaan Gebyar Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri di salah satu pusat perbelanjaan, di kawasan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (20/1/2018). (ANTARA /Risky Andrianto) ()

Sampang (ANTARA News) - Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur Akhmad Sukardi mengatakan Kabupaten Sampang merupakan kabupaten di Jawa Timur yang tercatat sebagai penyumpang terbanyak kasus difteri.

"Ini berdasarkan laporan tahunan yang disampaikan masing-masing daerah ke Pemprov Jatim," ujar Sukardi saat menyampaikan sambuntan dalam acara sosialisasi pelaksanaan "Outbreak Response Immunization" (ORI) Difteri se-wilayah Madura di Pendopo Bupati Sampang, Senin.

Bahkan, ujar dia, Kabupaten Sampang pernah menetapkan sebagai kejadian luar biasa dalam kasus difteri tersebut.

Ia juga menjelaskan, sebenarnya berdasarkan survei dan laporan rutin di masing-masing pemerintah daerah di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, ada beberapa kabupaten/kota yang terjangkit difteri.

Antara lain, Kabupaten Pasuruan, Sampang, Surabaya, Gresik, dan Kabupaten Nganjuk.

Hanya saja, kata dia, di antara lima kabupaten itu, data penderita difteri tertinggi ialah Kabupaten Sampang.

Akibat banyak kasus difteri di Kabupaten Sampang itu, Jawa Timur kini masuk dalam cacatan nasional dalam lima daerah terbanyak se-Jatim Saat atau penyumpang 51 persen kasus difteri nasional.

Pemprov Jatim mencatat, kasus difteri di tahun 2017 ada sebanyak 460 kasus dan diketahui 16 jiwa meninggal dunia, sedangkan di tahun 2016 hanya 320 kasus.

"Jadi, dalam kurun waktu 2016 hingga 2017 ada peningkatan," katanya.

Oleh karenanya, sambung Akhmad Sukardi, sosialisasi tentang penanganan penyakit difteri ini, sebagai upaya pemkab untuk menekan angka kasus yang dikenal ganas dan mematikan tersebut.

"Selain itu yang juga tidak kalah pentingnya melalui sosialisasi ini, adalah pentingnya identifikasi dini, sehingga pasien bisa segera tertangani," katanya.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar