Resensi Film - "Darkest Hour" tampilkan sisi manusiawi PM Inggris

Jakarta (ANTARA News) - "It`s not a gift. It`s revenge" (Ini bukanlah hadiah. Ini adalah balas dendam).

Perkataan sinis itu diucapkan politisi Partai Konservatif, Winston Churchill (diperankan oleh aktor kawakan Gary Oldman) kepada istrinya, Clementine (Kristin Scott Thomas), terkait penunjukan dirinya sebagai Perdana Menteri Inggris Raya.

Bagian awal "Darkest Hour" bukanlah intro yang terbata-bata, tetapi menunjukkan secara langsung bagaimana pada Mei 1940, tentara Nazi Jerman berhasil terus bergerak mencaplok berbagai negeri dan membahayakan Inggris.

Pihak oposisi di parlemen Inggris, yaitu Partai Buruh yang dipimpin Clement Atlee (David Schofield), dalam sidang parlemen menunjukkan ketidakbecusan pemerintahan Konservatif ketika itu.

Hal itu membuat Neville Chamberlain (Ronald Pickup) terpaksa mengundurkan diri, dan menunjuk Churchill, yang meski tidak disukai di kalangan partainya sendiri, merupakan satu-satunya sosok Partai Konservatif yang disetujui oleh pihak oposisi.

Keraguan untuk menunjuk Churchill sebagai Perdana Menteri bukan hanya ditunjukkan Konservatif, tetapi juga oleh sang Raja George VI (Ben Mendehlsohn).

Ketidaksukaan pucuk monarki Kerajaan Inggris juga membuat kecanggungan tersendiri, ketika Churchill datang ke Istana untuk dilantik oleh sang Raja.

Namun, panggung politik harus terus berjalan, dan itulah yang bakal dilalui oleh Churchill, yang penunjukannya dapat disebut apes karena terjadi pada tahun 1940.

Hal itu karena selain ancaman dari Nazi Jerman yang merajalela dan merangsek di Eropa daratan, Churchill juga mendapatkan tantangan dari faksi di dalam partainya sendiri, yang lebih menyetujui adanya perjanjian damai dengan Adolf Hitler.

Tantangan itu juga mesti dihadapinya bukan hanya secara sembunyi-sembunyi, tetapi juga terang-terangan, seperti saat pidato perdananya di parlemen Inggris sebagai perdana menteri, dia tidak mendapatkan dukungan dari Konservatif.

Rasa tidak suka dari partainya sendiri adalah karena Churchill dalam orasinya dengan berapi-api membangkitkan semangat patriotisme dan heroisme bangsa Inggris untuk bisa melawan pasukan Nazi.

Padahal, banyak elemen dari Partai Konservatif, seperti mantan PM Chamberlain serta Viscount Halifax (Stephen Dillane), lebih mendesak adanya pembicaraan damai dengan Jerman.

Tidak hanya itu, Churchill juga memiliki catatan buruk seperti rekornya di Gallipoli (Turki) pada 1915-1916, yang mengakibatkan kekalahan di pihak Inggris Raya ketika itu.

Churchill juga mendapatkan respons yang negatif dari Perdana Menteri Prancis, karena menyuruh tentara Prancis untuk terus berjuang melawan Jerman, meski saat itu Prancis sudah kelelahan dan banyak rakyatnya yang mengungsi.

Selain itu, Churchill semakin putus asa ketika permintaan bantuannya untuk tambahan armada pesawat ke Amerika Serikat, ternyata seperti menemui tembok.

Hal tersebut karena melalui sambungan telepon, Presiden AS Franklin Roosevelt (disuarakan David Strathairn) menyatakan bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ketika itu AS baru saja mengeluarkan UU Netralitas.

(Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat baru secara resmi menyatakan perang terhadap Jepang dan Jerman ketika pangkalan Pearl Harbour di Hawaii dihantam serangan harakiri tentara Kekaisaran Jepang, pada 1942).

Keputusasaan atas berbagai hantaman itu terus dirasakan oleh sang perdana menteri, dan pihak yang selalu konsisten memberikan dukungan kepadanya hanya bisa dihitung dengan jari, seperti sang istri.



Gejolak hati

"Darkest Hour" disutradai oleh Joe Wright, yang terkenal akan sejumlah karya sebelumnya seperti "Atonement" yang juga merupakan film dengan latar belakang kisah romantis pada Perang Dunia II.

Wright berhasil dalam mengangkat cerita yang ditulis oleh novelis Anthony McCarten, yang juga pernah menjadi penulis skenario film "Theory of Everything, menjadi sebuah penampilan pergumulan gejolak hati dari seorang Winston Churchill.

Film berdurasi 125 menit itu tidak menampilkan sosok Churchill sebagai pemimpin yang selalu mumpuni dan berkharisma tinggi sehingga selalu diagung-agungkan.

Tidak! "Darkest Hour" mencoba menunjukkan sisi manusiawi dari seseorang yang menjadi Perdana Menteri, yang kerap mendapatkan rintangan dalam melakukan pekerjaan hariannya.

Wright juga berhasil memasukkan sejumlah adegan yang sederhana tetapi memiliki makna yang estetis, seperti saat ketika seorang anak pengungsi Prancis melalui tangannya yang dibulatkan seperti teropong, melihat pesawat yang membawa Churcill ke negaranya.

Pujian lainnya yang juga sangat layak ditujukan pada film ini adalah kepada aktor Gary Oldman, yang sukses membawa baik fisik dan jiwa "Churchill" ke layar lebar.

Dengan didukung oleh tata rias yang sangat brilian, Gary Oldman menjelma menjadi seorang Perdana Menteri dengan segala sisi manusiawinya, baik kesedihan hingga beragam interaksinya dengan sejumlah warga.

Atas penampilannya di "Darkest Hour", Gary Oldman juga berhasil memenangi  kategori Aktor Terbaik untuk Film Drama di ajang Golden Globe, serta gelar serupa dalam acara Screen Actors Guild Award.

Namun, titik sentral yang sangat difokuskan kepada sosok Churchill juga bisa menjadi sebuah kekuatan utama, sekaligus sebagai kelemahan dalam film tersebut.

Hal ini karena begitu pentingnya Churchill, sehingga berbagai tokoh karakter lainnya juga terasa tidak terlalu digarap secara mendalam, sehingga tergelitik pertanyaan apakah lebih baik bila judul dari film ini adalah "Churchill" saja?

Tentu saja, seseorang bisa berargumen bahwa film itu hanya mengisahkan sebagian kecil dari masa kehidupan Churchill, yaitu pada tahun 1940 ketika Inggris sedang terpuruk menghadapi ancaman serangan dari Nazi.

Tapi, bukankah film "Lincoln" (2012, disutradarai Stephen Spielberg) juga tidak menampilkan seluruh kehidupan Presiden AS Abraham Lincoln, tetapi hanya berfokus kepada periode pengesahan amandemen emansipasi di bagian akhir Perang Saudara?

Meski demikian, film "Darkest Hour", dengan penampilan mengagumkan dari Gary Oldman dan penyutradaan yang kokoh dari Joe Wright, berhasil menggubah sebuah film yang dapat dinilai sangat mengesankan di antara rentetan film terkemuka lainnya yang berlatar belakang Perang Dunia II.

Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar