counter

Puluhan pasien RSJ Jambi ditelantarkan keluarga

Puluhan pasien RSJ Jambi ditelantarkan keluarga

Sejumlah warga yang mengalami gangguan jiwa dan cacat mental berkumpul makan bersama di Panti "Jalma Sehat" Desa Desa Bulungkulon, Jekulo, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/5/2017). (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

Jambi (ANTARA News) - Direktur Utama Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jambi dr Hernayawati mengatakan sedikitnya 78 orang pasien fasilitas kesehatan tersebut tidak mendapatkan perhatian yang cukup bahkan ditelantarkan oleh keluarganya, padahal mereka sudah tidak perlu dirawat lagi.

Hal itu terungkap saat dengar pendapat Komisi IV DPRD Provinsi Jambi bersama RSJ Jambi di gedung DPRD setempat, Selasa.

Hernayawati mengatakan puluhan pasien itu semula didatangkan dari berbagai daerah dan instansi. Ada juga dari Dinas Sosial dan yang diantar langsung keluarganya.

"Untuk biaya pasien yang terlantar oleh keluarganya ini cukup besar, dimana hari-hari untuk makan minumnya sebesar Rp25 ribu. Itu belum termasuk pakaian dan kebutuhan lainnya. Kalau wanita itu perlu bedak dan make up, semuanya masih kita tanggung," kata Hernayawati.

Dia mengatakan jika pasien di RSJ ada yang mempunyai keluarga, namun keluarga pasien tidak bisa menerima kehadirannya lagi dengan alasan beragam. Ada yang beralasan tidak cukup mampu untuk mengurusi dan ada yang karena faktor ekonomi.

Namun dari puluhan pasien yang ditanggung tersebut kebanyakan adalah pasien yang tidak diketahui lagi keluarganya dan alamat tinggalnya, karena mereka diambil oleh Dinas Sosial di jalanan.

Hernayawati mengatakan sebelumnya mereka telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk ditampung di Panti Sosial milik mereka, namun terganjal kapasitas fasilitas tersebut yang hanya memiliki satu blok, sementara dengan jumlah pasien yang ada sedikitnya dibutuhkan dua blok.

"Mereka tidak mungkin digabung, sebab ada yang laki-laki dan perempuan dan itu harus dipisah," katanya menambahkan.

Menanggapi keluhan pihak RSJ itu, anggota Komisi IV DPR Provinsi Jambi, Popriyanto, mengatakan pemerintah harus segera memberikan solusi tepat bagi pasien tersebut.

Ia mendukung opsi pasien yang tidak harus rawat inap lagi agar dilimpahkan kepada Dinas Sosial untuk dibina dan diberikan keterampilan.

"Tapi harus beda blok, kalau satu blok bahaya. Jadi harus dipisahkan antara laki-laki dan perempuan," kata Popri.

Perputaran sufi di taman jendela jiwa yang menenangkan

Pewarta: Dodi Saputra
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar