counter

Berkas dua pembunuh sopir taksi daring dilimpahkan ke Kejari Semarang

Berkas dua pembunuh sopir taksi daring dilimpahkan ke Kejari Semarang

Dokumentasi Pengemudi taksi perempuan Bluebird berbincang seputar penghasilan mereka di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Minggu (22/4/2012). Meski tak mencapai angka satu persen dari pengemudi lelaki di perusahaan tersebut, peluang bagi pengemudi perempuan selalu terbuka sebagai wujud untuk mendorong emansipasi atau penyetaraan hak bagi perempuan. (FOTO ANTARA/Fanny Octavianus) ()

Semarang (ANTARA News) - Polrestabes Semarang, Jawa Tengah, melimpahkan berkas bersama dengan dua tersangka kasus pembunuh Deny Setiawan, sopir taksi daring di Kota Semarang, ke Kejaksaan Negeri setempat.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksanaan Negeri Semarang Bambang Rudi Hartoko di Semarang, Rabu, membenarkan pelimpahan dua tersangka yang masih di bawah umur itu.

"Iya hari ini," katanya singkat.

Pelimpahan tersebut bertepatan dengan habisnya masa tahanan selama 15 hari dalam penanganan yang harus dituntaskan penyidik kepolisian.

Dua tersangka, masing-masing IB (15) dan TA (15) dijerat dengan Undang-undang Nomor 11 tahun 2012 tentang peradilan anak.

Perkara tersebut harus dituntaskan penyidikannya oleh polisi dalam jangka waktu 15 hari.

Sebelumnya, seorang pengemudi taksi daring di Kota Semarang, Jawa Tengah, Deny Setiawan ditemukan tewas setelah diduga jadi korban perampokan.

Tubuh korban ditemukan di Jalan Cendana Selatan IV, Sambiroto, Tembalang, pada Sabtu (19/1) malam.

Korban ditemukan tanpa identitas oleh warga sekitar.

Identitas korban terungkap usai diautopsi di Rumas Sakit Bhayangkara Semarang.

Mobil Toyota Grand Livina milik warga Margorejo Timur RT 09/RW 05 Kelurahan Kemijen, Semarang Timur tersebut juga dilaporkan hilang sebelum akhirnya ditemukan sehari sesudahnya.

Polisi menangkap pembunuhan sopir taksi online tersebut IB (15) warga Barusari, Semarang Selatan, dan TA (15) warga Kembang Arum, Semarang Barat.

Pewarta: Immanuel Citra Senjaya
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar