Adroady merevolusi iklan di mobil lewat teknologi programmatic

Adroady merevolusi iklan di mobil lewat teknologi programmatic

CEO dan founder Adroady, Edward Halley (kanan) bersama Chairman dan Co-founder Adroady Greogory Marchand, menjelaskan startup Adroady di Jakarta, Rabu (7/2/2018). (ANTARA News/ Arindra Meodia)

Jakarta (ANTARA News) - Startup media luar ruang Adroady merevolusi cara beriklan di mobil lewat teknologi baru yaitu programmatic out-of-home mobile atau iklan video luar ruang yang terprogram secara otomatis dan mobile.

"Teknologi Adroady akan membuat kampanye marketing sangat tepat sasaran dan terukur," ujar CEO dan founder Adroady, Edward Halley, di Jakarta, Rabu.

Bermula dari aktivitas sehari-hari di jalanan Ibukota, Edward melihat adanya potensi kemacetan Jakarta. Meski telah banyak startup yang memanfaatkan mobil sebagai media kampanye pemasaran, tidak banyak yang memanfaatkan media digital. Apalagi teknologi programmatic, yang diklaim pertama di dunia.

"Iklan di mobil dengan sticker kurang kreatif karena bentuknya statik. Waktu macet bisa melihat konten video brand yang bersifat kreatif yang bisa membuat waktu macet menyenangkan," ujar Edward.

"Saya berpikir tentang platform iklan yang bisa macam-macam (konten) dan buyers enggak repot. Dengan LED seperti ini bisa format video dan animasi, lebihnya lagi kami menggunakan teknologi programmatic bisa lebih spesifik di mana dan jam berapa," sambung dia.

Teknologi tersebut memungkinkan pengiklan mengunggah video secara riil time, dan video bisa berganti otomatis sesuai dengan lokasi atau waktu.

Pengiklan juga bisa memprogram video mana yang tidak ingin mereka tayangkan saat mobil sedang melintasi area tertentu untuk menjaga reputasi brand (brand save).

Setelah melakukan riset kurang lebih satu setengah tahun, Edward akhirnya memperkenalkan Adroady pada Desember 2017.

Cara kerja

Teknologi programmatic video Adroady dibangun berdasarkan gabungan dari teknologi internet-of-things, big data dan machine learnings.

Cara kerjanya, setelah pengiklan mengunggah video mereka lewat dashboard website, server akan mengirim video ke aplikasi yang ada di smartphone pengemudi, yang lalu "berkomunikasi" dengan komputer mini yang terpasang di dalam mobil. Komputer mini ini akan mengubah konten di videotron lewat koneksi wifi.

Adroady juga memasang dua kamera di bagian belakang mobil dengan dua fungsi yang berbeda supaya pengemudi bisa tetap melihat semua yang terjadi di belakang mobil dan untuk menghitung berapa banyak kendaraan yang sudah melihat iklan videotron.

Sensor kamera tersebut bekerja dua meter ke belakang dengan sudut 60 derajat. Kendaraan yang memasuki area tersebut akan dihitung sebagai satu kali impresi -- perlu dicatat, teknologi Adroady dapat mendeteksi kendaraan berhenti karena macet atau sedang parkir.

Data ini langsung ditransmisikan ke dashboard pengiklan sehingga dalam sekejap pengiklan bisa memonitor seberapa berhasil kampanye marketingnya.

"Dasboard sangat simpel, cukup log in, brand bisa pilih waktu dan lokasi, kemudian upload konten. Setelah upload, bisa lihat review campaign, berapa kali iklan tersebut tayang di jalan raya, dan seberapa banyak pengendara lain yang melihat iklan," jelas Edward.

Saat melakukan uji coba pada Oktober hingga November, Edward menjelaskan, dalam 236 ribu tayangan Adroady mampu menggaet 286 ribu viewers. Uji coba tersebut melibatkan Lazada, Panorama, NusaTrip, Rumah.com dan Ralali.com.

Gandeng mitra

Untuk melakukan kampanye pemasaran media digital tersebut Edward mengatakan Adroady telah menggandengan sejumlah komunitas driver online.

"Kerjasama dengan kepala komunitas driver online. Alasannya adalah demi keamanan barang (LED). Kepala komunitas akan komitmen penuh," kata Edward.

Menurut Edward, kepala komunitas driver online akan mengetahui kebiasaan dan perilaku driver online saat mengemudi.

Selain itu, umur kendaraan juga menjadi kriteria mitra Adroady. "Kurang dari 5 tahun," ujar Edward. Tipe mobil juga masih dibatasi -- kebanyakan Avanza, Xenia, Agya -- hal ini dikarenakan teknis pemasangan LED di bagian belakang mobil.

Untuk skema pembayaran, mitra Adroady akan mendapat insentif berdasar impresi. Mitra Adroady diperkirakan akan mendapat 70 hingga 100 dolar AS per bulan dengan perkiraan 8 jam berkendara.

"KPI-nya views, bukan berapa kilometer atau berapa jam, tapi views yang dicapai. Semakin banyak views artinya semakin banyak (uang) yang didapat," kata Edward.

Sementara, untuk menampilkan iklan berdurasi 30 detik di belakang mobil, pengiklan akan dikenakan biaya tergantung pada waktu dan lokasi penayangan iklan.

Saat ini, Adroady memiliki 30 mitra kendaraan. Edward menargetkan 1000 layar akan terpasang di kendaraan mitra Adroady hingga pertengahan tahun. Tidak hanya itu, Edward juga berniat untuk memperluas jangkauan layanan Adroady ke sejumlah kota di Indonesia.

Oleh karena itu, selain bekerjasama dengan driver online, Edward mengatakan saat ini tengah berdiskusi dengan Grab, dan tidak menutup kemungkinan untuk menjalin kerjasama dengan aplikasi penyedia transportasi sejenis, seperti Uber dan Gojek.

Pewarta:
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar