New York (ANTARA News) - Bursa saham Wall Streer berakhir lebih rendah pada Rabu (Kamis pagi WIB), setelah berfluktuasi antara keuntungan dan kerugian, karena para investor berhati-hati di tengah meningkatnya imbal hasil obligasi.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 19,42 poin atau 0,08 persen menjadi ditutup di 24.893,35 poin. Indeks S&P 500 turun 13,48 poin atau 0,50 persen menjadi berakhir di 2.681,66 poin. Indeks Komposit Nasdaq berkurang 63,90 poin atau 0,90 persen menjadi ditutup pada 7.051,98 poin.

Wall Street beralih menjadi gugup setelah imbal hasil obligasi negara 10-tahun naik ke level tertinggi multi tahun, di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan inflasi dapat membuat suku bunga lebih tinggi.

Societe Generale mengatakan dalam sebuah laporan pada Rabu (7/2) bahwa mereka melihat rantai kausalitas yang jelas dalam aksi jual pasar saham baru-baru ini: sentimen risiko global didorong oleh ekuitas AS, ekuitas AS didorong oleh imbal hasil obligasi AS dan AS ke tingkat signifikan oleh imbal hasil zona euro inti.

"Ini kemungkinan akan mengambil beberapa konsolidasi di suku bunga dan terutama imbal hasil zona euro untuk melihat stabilisasi di ekuitas," kata laporan tersebut.

Ketidakpastian politik juga bisa menekan pasar sampai batas tertentu, karena penghentian sebagian dari pemerintah federal terbentang di depan, jika anggota parlemen tidak menyetujui langkah-langkah pengeluaran pada Kamis tengah malam waktu setempat.

Dalam berita perusahaan, saham Snap Inc. melonjak 47,58 persen menjadi 20,75 dolar AS, setelah jaringan sosial tersebut mengirimkan hasil kuartalan yang lebih baik dari perkiraan pada Selasa (6/2) sore.

Pada Selasa (6/2), Dow diperdagangkan di kisaran lebih dari 1.100 poin sepanjang sesi. Dow jatuh lebih dari 500 poin pada pembukaan, "rebound" sesaat kemudian menjadi naik satu persen dan kemudian menyaksikan pertarungan liar sebelum melonjak lebih dari 600 poin di akhir perdagangan.

Ayunan liar pada Selasa (6/2) menyusul aksi jual curam yang dianggap sebagai "kejatuhan singkat" di sesi sebelumnya.

Para analis percaya bahwa kemunduran baru-baru ini tidak terkait dengan fundamental ekonomi. Sebaliknya, itu adalah koreksi pasar sehat yang disambut dan sudah lama tertunda.

Tidak ada data ekonomi utama yang keluar pada Rabu (7/2).

Pewarta: Apep Suhendar
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2018