Tahun ini, mimpi Efek Rumah Kaca manggung di SXSW terwujud

Tahun ini, mimpi Efek Rumah Kaca manggung di SXSW terwujud

Drummer Efek Rumah Kaca, Akbar Bagus Sudibyo, ditemui seusai usai konferensi pers Archipelageek From Indonesia to SXSW di Jakarta, Selasa (13/2/2018). (ANTARA News/Nanien Yuniar)

Jakarta (ANTARA News) - Tampil di festival seni kreatif dan teknologi South by Southwest (SXSW) adalah impian band Efek Rumah Kaca (ERK) sejak lama.

Kelompok beranggotakan Cholil Mahmud (vokalis/gitaris), Akbar Bagus Sudibyo (drummer) dan Poppie Airil (bas) sudah mendaftarkan diri sejak 2015, namun baru terwujud tahun ini. 

"Kami dulu pernah apply tapi mungkin belum terdeteksi, baru tahun ini alhamdulillah terpilih," kata Akbar usai konferensi pers Archipelageek From Indonesia to SXSW di Jakarta, Selasa. 

Mereka akan membawa sekitar 12 lagu terbaik dalam penampilan berdurasi 45 menit. Lagu-lagunya diambil dari tiga album mereka, "Efek Rumah Kaca" (2007), "Kamar Gelap" (2008) dan "Sinestesia" (2015). 

Band yang biasa menghadirkan lagu berlirik tajam dengan tema-tema sosial itu berencana tampil bersama enam additional player, termasuk pemain terompet, keyboard, gitar dan backing vokal untuk kesempatan manggung di negeri Paman Sam ini. 

Mereka berharap lagu-lagu berbahasa Indonesia yang dibawakan ERK kelak dapat memicu perbincangan dari rasa penasaran para penikmat musik yang tidak mengerti bahasa tersebut. 


Meski mendapat dana dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, ERK juga menggalang dana untuk menyokong kegiatannya di Amerika Serikat. Mereka menerima tawaran manggung antara 18 Februari hingga 3 Maret 2018. 

Sang vokalis, yang sedang bermukim di AS, akan pulang kampung selama dua pekan untuk tampil dalam upaya menggalang dana. Waktu yang tersisa akan dimanfaatkan untuk berlatih, yang belum pernah dilakukan semenjak Cholil bertolak ke AS. 

"Paling 1-2 kali latihan," kata Akbar. 

ERK memang ingin memaksimalkan kesempatan tampil di SXSW untuk memperluas jaringan, membuka pintu lain untuk melebarkan sayap. 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Gilang Galiartha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar