Rusia aktif lagi sabotase Pemilu Sela di AS tahun ini

Rusia aktif lagi sabotase Pemilu Sela di AS tahun ini

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (REUTERS/Jonathan Ernst)

Jakarta (ANTARA News) - Direktur Intelijen Nasional Dan Coats berkata kepada sebuah komisi Senat bahwa Rusia dan entitas-entitas asing lainnya kemungkinan besar menyerang Pemilu AS dan Eropa tahun ini dan setelah tahun ini. Menurut Coats, latar belakang Rusia ini didorong oleh keberhasilan mereka mengganggu Pemilu AS dua tahun lalu.

Coats, mantan senator yang dipilih Presiden Donald Trump sebagai kepala tertinggi intelijen Washington, menyatakan sudah melihat sendiri bukti Rusia menyasar Pemilu Amerika Serikat pada November 2016 ketika dominasi Republik di DPR dan Senat dipertaruhkan, ditambah beberapa posisi di pemerintahan negara bagian.

"Sejujurnya Amerika Serikat sedang diserang," kata Coats dalam rapat tahunan Komisi Intelijen Senat mengenai ancaman luar negeri.

Pernyataan Coats ini bertolak belakang dengan klaim Trump yang meragukan campur tangan Rusia dan membantah tuduhan kolusi antara orang-orang dekatnya dengan Rusia menjelang kemenangan mengejutkannya pada Pemilu 2016 melawan kandidat Demokrat Hillary Clinton.

Badan-badan intelijen AS sudah menyimpulkan sejak setahun lalu bahwa Rusia telah meretas dan melancarkan propaganda untuk mempengaruhi Pemilu demi keuntungan Partai Republik. Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali membantah hal ini, sedangkan Trump menyatakan percaya kepada Putin.

Baca juga: CIA perkirakan Rusia bidik Pemilu Sela AS

"Tak ada keraguan lagi bahwa Rusia menganggap upayanya di masa lalu sebagai keberhasilan dan memandang Pemilu Sela AS 2018 sebagai target potensial untuk operasi pengaruh Rusia," kata Coats.

Coats mengatakan operasi siber yang terus menerus dan menggangu  akan terus memanfaatkan Pemilu sebagai peluang untuk merusak demokrasi AS dan Eropa.

Coats menjabarkan berbagai cara yang dilakukan Rusia untuk mempengaruhi hasil Pemilu Sela tahun ini.

"Pada tingkat minimum, kami perkirakan Rusia akan terus menggunakan propaganda, media sosial, karakter publik palsu, juru bicara simpatik, dan sarana-sarana pencipta pengaruh lainnya untuk mempertajam perpecahan sosial dan politik di Amerika Serikat," kata dia.

Dugaan Rusia melakukan intervensi dalam Pemilu AS telah memicu digelarnya penyelidikan federal dan Kongres mengenai apakah tim kampanye Trump telah berkolusi dengan Moskow yang telah membayang-bayangi satu tahun pemerintahan Trump.

Baca juga: Langkah intelijen AS bendung intervensi Rusia pada Pemilu Sela


Pewarta:
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar