BEI: IPO dapat hindari polemik usaha keluarga

BEI: IPO dapat hindari polemik usaha keluarga

Dokumentasi Puluhan calon investor antri melakukan registrasi saat publik ekspos penawaran saham perdana (IPO) Garuda Indonesia di Jakarta, Rabu (12/1/2011). Pemerintah akan melepas saham PT Garuda Indonesia sebanyak 9.362.429.500 lembar dengan harga Rp 750-1.100 per lembarnya. (ANTARA/Prasetyo Utomo)

IPO merupakan salah satu sarana bagi perusahaan keluarga untuk menghindari konflik, karena pada umumnya pendiri perusahaan merupakan orang tua yang akan mewariskan perusahaannya."
Jakarta (ANTARA News) - Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai bahwa aksi perusahan melakukan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) dapat menghindari polemik dari usaha keluarga khususnya terkait dengan kepemilikan saham.

"IPO merupakan salah satu sarana bagi perusahaan keluarga untuk menghindari konflik, karena pada umumnya pendiri perusahaan merupakan orang tua yang akan mewariskan perusahaannya," ujar Senior Executive Vice President, Head of Potential Issuer Development BEI Umi Kulsum dalam seminar "Road To Go Public" di Jakarta, Rabu.

Melalui IPO, lanjut dia, perusahaan juga akan memperoleh akses pendanaan lebih luas dalam rangka mengembangkan usaha, dan perusahaan akan dapat meningkatkan penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance /GCG).

"Dengan perusahaan melakukan IPO, maka perusahaan akan didorong untuk menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, dan juga dipantau kinerjanya oleh publik," katanya.

Ia menambahkan bahwa menjadi perusahaan tercatat di BEI juga akan mendorong sumber daya di dalam perusahaan untuk bekerja secara profesional. Dengan begitu, perusahaan dapat terus melangsungkan bisnisnya.

Dalam kesempatan sama, Chief Financial Officer (CFO) Tower Bersama Group, Helmy Yusman Santoso mengatakan bahwa salah satu keuntungan dari perusahaan melakukan IPO adalah akses pendanaan akan menjadi lebih mudah baik di dalam negeri maupun global.

"Setelah IPO, perusahaan dapat menerbitkan surat utang (obligasi) baik di dalam negeri dan luar negeri," ujarnya.

Sementara itu, Head of Valuation BDO Indonesia, Panca Arief Jatmika mengemukakan terdapat tiga tahap untuk melakukan IPO, yakni penelaahan, persiapan, dan pelaksanaan IPO serta ekspansi bisnis.

Ia memaparkan, proses penelaahan dimulai dengan memahami perusahaan melalui penilaian faktor internal dan eksternal yang akan mempengaruhi kesuksesan untuk melakukan IPO.

"Penelaahan akan membantu memahami posisi perusahaan, masa depan serta prospek bisnis perusahaan," katanya.

Untuk tahap persiapan IPO, lanjut dia, perusahaan melakukan valuasi saham, restrukturisasi, dan pencarian calon investor. Dan tahap terakhir yakni melaksanakan IPO serta menggunakan dana IPO untuk melakukan ekspansi bisnis.

Baca juga: Pasar obligasi korporasi diproyeksikan semarak pada 2018

Pewarta:
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar